Kontroversi Seputar Pengangkatan Khalifah Pasca Nabi SAW

Desember 11, 2008 at 12:30 pm (Ilmu-Ilmu ke-Islam-an)

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Di tangan Nabi, Islam bercokol di tanah Arab tidak hanya dalam bentuk suatu agama, namun Islam juga memunyai semangat untuk membentuk suatu pemerintahan. Dalam mewujudkan sebuah tatanan moral baru dan menyeluruh, Muhammad telah menyusun kembali sebahagian besar unsur-unsur system Mekkah dari kaum Quraisy di dalam sebuah system baru dan lebih luas. Pada masa hidupnya nabi, al-Qur’an telah sedemikian rupa menopang beliau dalam menjalankan pemerintahannya, namun secara tipikal al-Qur’an tidak mengurus kemungkinan-kemungkinan gejolak politik pada hari meninggalnya Nabi atau bahkan pasca kematian Nabi.

Meskipun beberapa orientalis barat memandang bahwa Dakwah Nabi telah bergeser dari semangat islam kepada semangat politik, sebagaimana yang diungkapkan oleh H.A.R. Gibb, bahwa Muhammad bersama risalah agamanya berubah sekali selepas peristiwa hijrah, kerena selama di Makkah ia benar-benar melaksanakan kerja agama, namun selepas pindah ke Madinah hal tersebut bertukar menjadi suatu gagasan politik, gerak laku Muhammad juga berubah dari yang pasif menjadi agressif.[1]

Pertanyaan pertama yang muncul pasca wafatnya Nabi adalah apa memang perlu ada Negara yang harus melastarikannya. Sebahagian orang dari komunitas ummat yang Muhammad ciptakan mempunyai konsepsi islam yang cukup ambisius. Bagi mereka, islam bukan semata-mata pengabdian seseorang kepada Tuhan; Islam merupakan sebuah kesatuan yang kompak dimana semua muslim terikat satu dengan lainnya. Kesatuan yang kompak ini tidak harus buyar dengan wafatnya Sang Nabi; pola hidup yang telah beliau lembagakan dapat diteruskan di bawah pengayoman orang-orang terdekatnya, yaitu kaum muslimin awal (as-sabiqunal awwalun). Hingga siapa saja yang memisahkan diri dari inti kaum muslimin di Madinah pada dasarnya telah mengingkari Islam itu sendiri; mereka adalah para penkhianat pada tujuan Allah yang telah begitu lama diperjuangkan oleh Muhammad dan para pengikutnya. Tujuan tersebut masih harus diperjuangkan, dan membutuhkan seorang pemimpi tunggal yang diterima oleh semua pihak dikalangan kaum muslimin.

Abu Bakar dan Umar dianggap berjasa dalam meyakinkan kaum muslimin Madinah pada pandangan yan berani ini. Mereka keluar dari barisan para pemimpin Madinah yang sedang berkumpul dan dan menyeru kepada kesatuan: Uma kemudian mengucapkan sumpah setianya kepada Abu Bakar, dan kaum Anshar segera mengikutinya sebagaimana kaum Quraisy.[2]

Jadi pada prinsipnya, Nabi dikala wafatnya tidak hanya mewariskan Islam sebagai sebuah Agama, namun beliau juga mengamanatkan sebuah kerjaan, pemerintahan, Negara, dan apapun namanya bagi penduduk mekkah dan yang ada dibawah kekuasaannya.

Demikianlah sehingga dalam pembahasan, penulis akan menjelaskan proses berdirinya khilafah dalam Islam, sampai pada sejarah pemerintahan khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali).

II. Rumusan Masalah

Pada bagian rumusan masalah, penulis akan berusaha untuk memfokuskan kajian terhadap beberapa hal yang paling penting dalam sejarah khulafa’ al-Rasyidin, yaitu tentang:

1. Sejarah berdirinya Khilafah sepeninggal Nabi Muhammad.

2. Perkembangan Khilafah pada masa Abu Bakar.

3. Perkembangan Khilafah pada masa Umar.

4. Perkembangan Khilafah pada masa Utsman.

5. Perkembangan Khilafah pada masa Ali.


BAB II

PEMBAHASAN

I. Sejarah Berdirinya Khilafah Sepeninggal Nabi.

Sebelum kita membahas tentang sejarah khilafaf dalam islam, alangkah baiknya bila kita memahami dulu makna dari khilafah. Secara bahasa, khilafah berasal dari kata khalafa yang artinya orang yang menyusul selepas orang yang terdahulu, atau pengganti orang yang lalu, seterusnya lahirlah kalimat khalifah yang berarti pemimpin atau tertua tertinggi.[3] Jadi yang dimaksud oleh penulis dengan sejarah berdirinya khilafah sepeninggal Nabi adalah, sejarah pemimpin dan pemerintahan Islam setelah wafatnya Nabi.

Ketika Nabi wafat, para sahabat dihadapkan pada permasalahan besar yang berkaitan dengan kekuasaan, terlebih kala itu pengaruh rasulullah telah tersebar dan meluas ke kawasan arab yang lain. Banyak di antara daerah-daerah tersebut yang telah menganut Islam, mereka juga telah patuh untuk membayar jizyah, lalu masih berlanjutkah pengaruh Madinah? Jika ya, siapakah dari penduduk kota tersebut yang akan memegang tanggung jawab?.

Setelah meninggalnya Nabi, kaum Anshar berkumpul di Saqifah banu sa’idah, di sana Sa’ad bin Ubadah berpidato dihadapan majlis Anshar, dan memberikan propaganda bahwa yang layak untuk duduk menggantikan Nabi di Madinah adalah dari kaum Anshar, yaitu Sa’ad bin Ubadah, namun sebelum pembai’atan terjadi Umar mendengar bahwa kaum Anshar akan membai’at Sa’at bin Ubadah di Tsaqifah Banu Sa’idah, sehingga dengan tergesa-gesa Umar mendatangi Umar untuk menemui kaum Anshar di tsaqifah.

Pertemuan di tsaqifah sangat lah penting dalam sejarah Islam yang baru tumbuh itu. Jika dalam pertemuan ini Abu Bakar tidak memperlihatkan sikap tegas dan kemauan yang keras –seperti juga di kawasan arab yang lain— justru di kandang sendiri hamper saja agama baru ini menimbulkan perselisihan, sementara jenazah pembawa risalah itu masih ada di dalam rumah, belum lagi dikebumikan.[4]

Walaupun lewat perdebatan yang cukup sengit antara kaum Muhajirin yang diwakili oleh Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah, dengan kaum Anshar, akhirnya Abu Bakar di Bai’at di tsaqifah meskipun Sa’ad bin Ubadah tidak membai’atnya hingga wafatnya Abu Bakar. [5]

Setelah pembai’atan di tsaqifah diadakanlah pembai’atan umum dan pidato Abu Bakar yang pertama sebagai Khalifah, namun sebenarnya dalam konsensus ini pun masih belum di ikuti oleh seluruh kaum muslimin, bahkan beberapa sahabat Muhajirin ada yang tidak ikut membai’at Abu bakar, seperti Ali bin Abi Thalib, dan Abbas bin Abdul Muthalib hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib membai’at enam bulan kemudian setelah wafatnya Fatimah binti Muhammad.[6]

Memang ada beberapa perbedaan pandapat yang diungkapkan oleh ahli sejarah berkenaan dengan pembai’atan terhadap kekhalifahan Abu Bakar, ada juga yang diantaranya menyatakan bahwa seluruh kaum muslimin membai’atnya sebagaimana yang tertulis di www.albayyinat.net berkenaan dengan pengangkatan Abu bakar dikatakan, “dan saat itu tidak ada satu orangpun yang protes atau tidak menyetujui pembai’atan tersebut. Hal mana karena semua sepakat, agar kekosongan pimpinan harus segera diisi. Bahkan pemakaman Nabi terpaksa diundur, karena menunggu terpilihnya Khalifah. Apabila ada keterlambatan dari dua tiga orang dalam membai’at dikarenakan alasan masing-masing, toh akhirnya semua menerima dengan ikhlas pengangkatan sayyidina Abu Bakar.[7] Namun, fakta sejarah apapun yang terjadi saat itu, bahwa pemerintahan Abu Bakar merupakan tonggak sejarah kelangsungan pemerintahan Islam, serta di bawah kekuasaannyalah Khilafh pertama dalam Islam.

II. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq.

Setelah kita bahas beberapa hal tentang proses pembentukan kehalifan yang pertama, selanjutnya kita coba untuk memahami bebrapa hal penting yang dilakukan oleh abu bakar dalam kekhilafahannya.

Dengan realita bahwa terdapat banyak pro-kontra dalam kekhalifahan Abu Bakar pasca sepeninggal Nabi, maka tidaklah aneh jika dalam pemerintahannya Abu Bakar lebih banyak terpakai untuk menstabilkan politik dalam negri, dengan adanya kemunculan nabi palsu ataupun kelompok-kelompok yang murtad sepeninggal Nabi. Untuk menstabilkan politik dalam negeri di Madinah Abu Bakar mengirim 11 panglima untuk melakukan tugas tersebut, adapun panglima yang dimaksud adalah:

1. Khalid bin Walid yang bertugas untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid yang mengaku nabi dan pemberontakan di Battah Arab Selatan yang dipimpin oleh Malik bin Nuwairah.

2. Ikrimah bin Abu Jahal yang bertugas untuk memerangi Musailamah al-Kadzab yang mengaku sebagai nabi dari Bani Hanifah yang terletak di pesisir timur Arab.

3. Syurahbil bin Hasan bertugas membantu Ikrimah.

4. Muhajir bin Umayyah, bertugas menundukan pengikur Aswad al-Insa –orang yang pertama kali mengaku Nabi di daerah Yaman— dan memadamkan pemberontakan di daerah Hadramaut yang dipimpin oleh Kais bin Maksyuh.

5. huzaifan bin Muhsin al-Galfani, bertugas mengamankan daerah Daba karena pemimpinnya mengaku sebagai Nabi.

6. Arfajah bin Harsamah, bertugas mengembalikan stabilitas daerah Oman dan Muhrah.

7. Suwaid bin Muqarrin, bertugas mengamankan daerah Tihamah yang terletak di sepanjang Laut Merah.

8. Al Alla’ bin Hadrami, bertugas memadamkan pemberontakan kaum Riddah di daerah bahrein.

9. Amr bin Ash, bertugas memadamkan pemberontakan suku Kuda’ah dan Wadi’ah.

10. Khalid bin Sa’id, bertugas memadamkan [8]pemberontakan suku-suku besar dekat perbatasan Suri’ah dan Irak.

11. Maan bin Hajiz, bertugas memadamkan pemberontakan kaum Riddah dari suku Salim dan Hawazin di daerah Thaif.

Setelah ke-11 panglima tersebut di atas mampu menstabilkan politik dalam negeri dan membungkam pemberontakan-pemberontakan yang muncul, maka Khalifah Abu Bakar memfokuskan pemerintahannya kepada ekspansi keluar, yaitu Persia dan Romawi Timur. Adapun panglima yang ditugaskan untuk ekspansi ke luar adalah:

1. Musanah bin Harisah al-Sayyaibani, bertugas menaklukan beberapa wilayah Persia.

2. Khalid bin Walid, bertugas membantu pasukan Musanah untuk menaklukan pusat kerajaan Persia dan berhasil, serta mengangkat seorang Amir di tiap daerah yang ditaklukan.

3. Abu Ubaidah bin Jarrah, bertugas menaklukan daerah Romawi, yaitu Homs Suriah utara dan Antokia.

4. Amr bin As, bertugas menaklukan wilayah Palestina.

5. Syurahbil bin Hasan, bertugas menundukan Tabuk dan Yordania.

6. Yazid bin Abu Sofyan, bertugas menaklukan Damaskus dan Suriah Selatan.

Kerena begitu gencarnya ekspansi ke luar negeri yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar sehingga menghasilkan dua perang besar, yaitu:

1. Perang Yarmuk, peperangan kaum muslimin di bawah kepemimpinan panglima Khalid bin Walid dengan pasukan romawi.

2. Perang Mauqiah Zat as-Salasil, peperangan kaum muslimin dengan tentara Persia.

Abu Bakar memerintah selama 2 tahun 3 bulan, selam itu pula beliau mampu menorehkan banyak prestasi, dari meredam keberadaan nabi palsu, mempertahankan keutuhan Negara Islam saat itu, lebih dari itu Abu Bakar juga dianggap orang yang paling berjasa dalam pengumpulan mushaf al-qur’an dalam satu kitab, bahkan lebih dari pada itu, Abu Bakar dalam sakitnya mampu membuat terobosan baru yang tidak sempat dilakukan oleh Nabi, yaitu menunjuk Khalifah sesudahnya. Hal ini disebabkan oleh kejadian di Tsaqifah Banu Sa’idah yang hamper saja meluluh lantahkan semua perjuangan Nabi. Abu Bakar kemudian memanggil Utsman dan Abdurrahman bin Auf secara bergantian, seraya bertanya tentang kemungkinan naiknya Umar memegang tampuk kekuasaan kekhalifan, selain itu Abu Bakar juga bermusyawarah dengan Sa’id bin Zaid serta Usaid bin bin Hudair, serta yang lain dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sebahagian besar di antara mereka khawatir sikap Umar yang sangat keras akan mmecah belah ummat, sehingga mereka berinisiatif untuk memohon kemungkinan Abu Bakar menarik kembali niatnya, namun hal itu hanya membangkitkan murka Abu Bakar, hingga akhirnya Abu Bakar mengimla’kan surat wasiat sekaligus pengangkatan Umar sebagai Khalifah yang dituliskan oleh Utsman.[9]

Abu Bakar wafat dalam pada hari senin malam ke-21 Jumadil Akhir tahun 13 Hijrah (22 Agustus 634 M) dalam usia 63 tahun. Beliau wafat di sore hari setelah terbenamnya matahari dan dimakamkan pada malam itu, setelah dimandikan oleh istrinya Asma’ binti Umais, kemudian beliau dimakamkan di samping makam Nabi.[10]

III. Khalifah Umar bin Khattab.

Setelah wafatnya Abu Bakar, Umar selaku Khalifak kedua ditinggalkan banyak hal selain kesuksesan yang telah dilakukan oleh Khalifah pertama, ada beberapa pekerjaan yang sangat krusial yang sangat penting kala itu, di antaranya adalah perang yang tengah berlangsung di Irak dan Syam. Posisi kaum muslimin di Irak dan Syam saat itu memang sangat kritis, mereka sudah tidak berdaya berhadapan dengan pasukan Romawi, salah satu strategi Umar yang cukup controversial dan berani adalah, beliau memecat khalid bin walid dan menggantikannya dengan Abu ubaid, dikirim juga bersama Abu Ubaid seorang sahabat yang bernama Musanna bin Harisah.[11]

Masa pemerintahan Umar adalah masa-masa penuh dengan perang dan penaklukan, dengan kemenangan yang selalu berada di pihak muslimin. Kedaulatan mereka meluas sampai mendekati Afganistan dan Cina di sebelah timur, Anatolia dan Laut Kaspia di sebelah utara, Tunis dan sekitarnya di Afrika Utara di bagian barat dan kawasan Nubia de selatan. Sebenarnya perluasan daerah yang demikian ini di luar konsep politik Umar kala itu, karena yang menjadi ambisi politik Umar adalah menggabungkan semua ras Arab ke dalam satu kesatuan yang membentang dari Teluk Aden di selatan sampai ke ujung utara di pedalaman Samawah, namun dikala pembebasan itu selesai, peristiwa sringkali lebih kuat dari manusia, dan peristiwa-peristiwa itulah yang mendorong kaum muslimin meneruskan langkah pembebasan tersebut dan sampai sejauh daerah-daerah yang kita lihat. Adapun yang membuat kaum muslimin demikian percaya diri adalah, mereka merasa lebih kuat, dengan keaykinan bahwa maereka mengamban sebuah misi suci yang harus disampaikan kepada dunia, dan duniapun harus mendengarkannya.[12]

Ada beberapa catatan yang berkenaan dengan penaklukan daerah-daerah yang dilakukan oleh tentara muslim pada masa khalifah Umar bin Khattab, diantaranya:

1. Abu ubaid pengganti Khalid bin Walid berhasil melumpuhkan kekuatan Romawi di Suriah, Palestina, dan yerusalem dengan hasil yang gemilang, hingga kala itu Patriach Shopporius menyerahkan yerussalem kepada Umar.

2. Yazid bin Abu Sofyan telah berhasil menaklukan daerah sekitar palestina seperti Gaza, Askalon Caesara.

3. Khalid bin Walid berhasil menaklukan Mesir yang berikotakan Iskandariah.

4. Muawiyyah bin Abi Sofyan berhasil menguasai Latkia dan Sidon.

5. Sa’ad bin Abi Waqqas mampu memadamkan perlawanan pasukan Persia yang dipimpin panglima Rustam yang kemudian dikenal dengan perang Qadisiah. Selain itu Sa’ad juga berhasil menaklukan Babilon, Ctesiphon ibu kota Persia.[13]

Dari segi pemerintahan Umar sudah mulai lebih terbuka, karena prinsip-prinsip syura’ lebih dia jalankan, meskipun pada masa Nabi dan Abu Bakar ini telah berjalan, namun musyawarah hanya dilakukan dengan beberapa sahabat terutama Abbas bin Abdul Muttalib, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan yang setingkat mereka, akan tetapi pada masa Umar, beliau telah mengajak orang banyak dalam musyawarah meskipun pada akhirnya segala keputusan menjadi hak preogratif khalifah, sebagai pengemban amanah yang bertanggung jawab kepada Allah, kepada dirinya sendiri, dan kepada ummat yang telah mengangkatnya. Dari banyak kisah kita bisa lihat betapa Umar merupakan sosok yang sangat arif dalam memerintah, dalama hal persamaan hukum, kita banyak dikisahkan tentang apa yang dilakukan Umar kepada Muhammad bin Amr bin Ash yang telah mencambuk seorang rakyat jelata yang berasal dari mesir, ini merupakan ketegasannya dalam memimpin. Selain itu, pada masa Umar lah administrasi Negara mulai terbentuk, dengan diangkatnya Qadhi’ di berbagai wilayah, yang bertugas untuk menentukan keputusan hokum yang bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, begitu juga lembaga keuangan tidak luput dari perhatiannya.

Kurang lebih 10 tahun Umar memegang jabatan sebagai Khalifah, ada perbedaan pendapat tentang berapa umur Umar kala itu, tapi yang paling mungkin adalah lebih dari 60 tahun[14], pada waktu itu Umar terbunuh oleh seorang budak kafir asal Persia yang bernama Abu Lu’lu’ah disaat akan mengimami shalat subuh. Kisah terbunuhnya Umar memang mengurai kontroversi, karena sarat dengan konspirasi politik yang terjadi, dalam beberapa pendapat diungkapkan bahwa kematian Umar telah direncanakan, salah satu indikasinya adalah munculnya ramalan ka’b al-Akhbar tiga hari sebelum terbunuhnya Umar.[15] Dalam keadaan kritis, Umar memerintahkan beberapa tokoh yaitu, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqas untuk bermusyawarah berhubungan dengan pergantian Khalifah, dengan kata lain Umar mengisyaratkan agar salah satu dari mereka yang kemudian hari akan memimpin kekhalifahan Islam, dan dalam hal ini Usman lah yang kemudian terpilih untuk menkjadi Khalifah.

IV. Khalifah Usman bin Affan.

Pada pemilihan Usman menjadi Khalifah peta politik islam saat itu tertuju pada persaingan Usman dan Ali, dengan kata lain ini merupakan titik tolak kembalinya persaingan Klan Bani Hasyim dan Bani Umayyah, masing-masing Klan melakukan propaganda untuk melakukan suksesi terhadap calon yang muncul dari golongannya. Dalam musyawarah yang mirip dengan konsesus serta dimoderatori oleh Abdurrahman bin Auf, Usmanlah yang kemudian dipasrahi jabatan Khalifah dan dibai’at oleh kaum muslimin.

Berhubungan dengan pengangkatan Usman yang kala itu bersaing dengan Ali di panggung plitik setidaknya ada 2 pendapat berkenaan dengan sikap Ali, di antaranya:

1. Menerima dengan puas dan dengan kerelaan hati membai’at Usman.

2. Ali merasa kecewa dan merasa diutipu oleh Abdurrahman bin Auf seraya berkata kepadanya: “anda menipu saya dan anda mengangkatnya karena dia semenda anda, sehingga dapat berunding setiap hari”.[16]

Ekspansi pada masa Khalifah Usman lebih banyak bersifat merebut kembali wilayah yang telah ditaklukan oleh pasukan Islam sebelumnya[17], namun selain itu Usman juga melakukan ekspansi ke bebrapa daerah, diantaranya:

1. Pembebasan Azarbaizan yang dipimpin oleh Utbah bin Farqad, dari sini penaklukan juga meluas ke Bab dan Mauqan.[18]

2. Penguasaan wilayah Tripolli di Barat sampai seluruh Asia Tengah di Timur, Yaman, dan Turkistan.[19]

Namun, banyak kebijakan politik Usman yang cukup membuat para sahabat marah dan kecewa, salah satunya adalah karena pencopotan pejabat-pejabat penting pada jaman Umar dan mengganti mereka dengan kerabat Usman,[20] hal-hal inilah yang dalam catatan sejarah dianggap sebagai aib besar yang terjadi di masa kepemimpinan Usman bin Affan.

Kemarahan beberapa golongan muslimin bergolak sehubungan dengan surat perintah pembunuhan terhadap Muhammad bin Abu Bakar, sehingga selama 40 hari rumah Usman dikepung oleh kaum pemberontak yang di dalamnya terdapat Muhammad bin Abu Bakar, hingga hari itu pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H, Muhammad bin Abu Bakar merangsek masuk ke rumah Usman dan merenggut janggut Usman sementara dia sedang membaca Mushaf pada surat Al-Baqarah, di sini ada beberapa perbedaan pendapat tentang siapa yang membunuh Usman, ada yang mengatakan Muhammad bin Abu Bakar lah yang melakukannya, namun ada juga yang berpendapat bahwa dia tidak terlibat langsung, namun dia memang berada di sana kala itu.

Sungguh tragis kematian Usman bin Affan, kaum pemberontak juga tidak memperbolehkan mayat sang Khalifah untuk dikuburkan hingga selama tiga hari. Jenazan itu baru boleh dikuburkan setelah beberapa orang Quraisy meminta Ali menengahi masalah itu dengan kaum pemberontak. Yang menghadiri pemakaman pun hanyalah Marwan bin Hakam, Jubair bin Mut’im, Hakim bin Hizam, Abu Jahm bin Huzaifah al-Adawi, niyar bin Makram, dan kedua istri Usman, Na’ilah binti Farafisah dan Um al-Banin binti Uyainah.

V. Khalifah Ali bin Abi Talib.

Pasca kematian Usman, para pemberontak mengadakan pendekatan dengan Ali bin Abi Talib dengan maksud mendukungnya menjadi Khalifah, hal ini dipelopori oleh al-Gafiqi dari pemberontak mesir sebagai kelompok terbesar. Walaupun pada awalnya Ali menolak, namun karena kekosongan pemimpin serta yang paling layak saat itu adalah Ali. Pada akhirnya Ali dibai’at di masjid Nabawi pada hari Seni 21 Dzulhijjah 35 H/ 20 Juni 656 M, dan yang pertama kali membai’atnya adalah para pemuka pemberontak, dan dalam hal ini sebagian besar kalangan Bani Umayyah tidak mau membai’atnya, selain itu ada beberapa sahabat penting madinah dari Muhajirin dan Anshar, seperti Sa’ad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, Hasan bin Sabit, Abdullah bin Umar dan beberapa lainnya yang tidak bersedia untuk membai’at Ali bin Abi Talib. Sementara itu di sela-sela ramainya suara kegembiraan selesai pembai’atan memenuhi udara kota Madinah, di sudut lain sayup-sayup terdengar nada kesedihan, merinrih dan memilukan sekali. Penyair Hasan bin Sabit sedang mengakhiri pembacaan puisi eleginya atas kematian Usman bin Affan. [21]

Pada masa pemerintahannya Ali tidak melakukan ekspansi, karena Ali sangat disibukan dengan mengurus urusan dalam negeri sebagai imbas dari pembunuhan Usman, terjadi banyak pemberontakan serta perlawanan dari pengikut Usman.

Kematian Usman akhirnya terdengar oleh Aisyah istri Nabi yang sedang dalam perjalanan pulang dari Mekkah, terlihat kemarahan di wajah Aisyah, dan satu hal yang ia yakini bahwa Ali ada dibalik pembunuhan Usman. Kemarahan Aisyah menyebabkan sebuah pertempuran besar di Basrah, terlibat juga di dalamnya Zubair dan Talhah, perang ini kemudian disebut sebagai Waq’at al-Jamal (insiden/perang unta), walaupun perang ini dapat dimenangkan oleh Ali namun akibat dari perang ini sungguh memilukan, karena kaum muslimin saling bunuh dan meninggalkan lebih dari 20.000 korban.[22]

Setelah selesai peperangan dengan Aisyah, perang dingin dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan sang gubernur Syam semakin meruncing, terlebih Muawiyyah tetap tidak mau mengakui dan membai’at kekhalifahan Ali. Puncaknya adalah ketika Muawiyyah mengangkat dirinya menjadi Khalifah dan mengklaim dirinya sebagai pengganti Usman yang terbunuh. Dengan terus menghembuskan isu penuntutan tebusan darah Usman, perang pun tak bisa dihindarkan, sehingga siffin sebuah tempat yang tak jauh dari sebelah barat pantai sungai Furat menjadi saksi sejarah pertempuran Ali dengan Muawiyyah pada 37 H/ 657 M. Ketika pasukan Muawiyyah mampu dipukul mundur mereka melakukan rekayasa politik dengan mengangkat mushaf dan terjadilah tahkim.

Peristiwa tahkim menyisakan perpecahan dalam tubuh Islam, karena Islam kemudian terpecah menjadi dua wilayah dan kekhalifahan: Imam Ali di timur –semenanjung Arab, Irak dan Persia— , sedangkan Muawiyyah di bagian barat –meliputi Syam (Suria) dan Mesir, inilah awal perpecahan ummat Islam yang berakibat jauh dalam sejarah.[23]

Dalam hal ini pengikut Imam Ali terpecah menjadi dua golongan, yaitu:

1. golongan yang telah jemu berperang, segala bencana dan pembunuhan yang selama ini menimpa mereka telah menimbulkan kebencian kepada Muawiyyah dan orang Syam. Mereka terus berdebat mengenai hak mereka dari segi agama dan Syari’ah. Kebanyakan dari mereka adalah penduduk kota yang kemudian menjadi penganut paham Syi’ah.

2. Satu golongan lagi, mereka masih memikul dendam dan tak dapat menerima manipulasi Amr kepada Abu Musa sebagai alas an membenarkan Imam Ali atas segala yang terjadi. Mereka berbicara kepada Imam Ali dengan begitu berani, kasar dan keras kepala, mereka adalah penduduk pedalaman, merekalah yang kemudian keluar dari pasukan Imam Ali, dan mendapatkan sebuta Al-Khawarij.

Pada tahun 40 H, orang-orang Khawarij akan melaksanakan pembunuhan terhadap 3 orang, yaitu Ali bin Abi talib, Umayyah bin Abi Sofyan, serta Amr bin Ash, ketiganya akan dibunuh pada saat sholat Subuh pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.[24] Namun, pembunuhan Muawiyyah dan Amr bin Ash tidak berhasil dilakukan, sementara Abdurrahman bin Muljam –pembunuh Ali— telah berada di Kuffah, hingga waktu Subuh datang ia berhasil menikam Imam Ali dan kemudian meninggal 2 hari setelah tragedy tersebut.


BAB III

PENUTUP

I. Kesimpulan

Pergolakan politik pasca wafatnya Nabi memang sangat dramatis, munculnya kekhalifan pertama yang dipegang oleh sahabat Abu Bakar, dilanjutkan oleh Umar, Usman, dan Ali ternyata harus berakhir dalam sebuah system kerajaan yang di bangun oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan, karena konsep khilafah yang sah adalah bukan perorangan, keluarga, atau kelas tertentu, tapi komunitas secara keseluruhan yang meletakan dasar hukum kepada kitabullah.[25]

Dari kisah ini bisa kita lihat betapa dominasi kesukuan masih sangat mendarah daging pada masa sahabat dan tabi’in, bahkan sesudahnya dan mungkin inilah yang menjadi sandaran bagi para oeriantalis yang mengatakan bahwa al-islamu yantasyiru bi ad-dammi wa as-sayfi (islam itu tersebar dengan pedang dan darah), sehingga sebagai seorang muslim kita juga harus mampu membedakan antara Islam sebagai agama suci, serta islam sebagai sebuah tatanan social, yang mempunyai hubungan langsung dengan kepentingan, baik politik, ekonomi, dan lain sebagainya.


[1] Marzuki Haji Mahmood, Isu-isu Kontroversi dalam Sejarah Pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, (http://www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=63&mode=thread&orde). Hlm. 8.

[2] Marshall G. S. Hodgson, The Venture Of Islam; Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, diterjemahkan Oleh Mulyadhi Kartanegara, (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 287.

[3] Marzuki Haji Mahmood, Isu-isu Kontroversi dalam Sejarah Pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, hlm, 11.

[4] Muhammas Husein Haekal, Abu Bakar As-Siddiq sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi, diterjemahkan oleh Ali Audah, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2008), hlm, 37.

[5] Ibid, hlm, 44.

[6] Ibid, hlm, 47.

[8] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hlm, 17.

[9] Muhammas Husein Haekal, Abu Bakar As-Siddiq sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi, diterjemahkan oleh Ali Audah, hlm, 365-368.

[10] Ibid, hlm, 374.

[11] Muhammas Husein Haekal, Umar bin Khattab Sebuah telaah Mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa itu, diterjemahkan oleh Ali Audah, (Jakarta: PT. Litera AntarNusa, 2008), hlm, 113.

[12] Ibid, hlm, 635-636.

[13] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam/, hlm, 37.

[14] Ibid, hlm, 771.

[15] Isbid, hlm, 779.

[16] Muhammas Husein Haekal, Usman bin Affan Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, diterjemahkan oleh Ali Audah, (Jakarta: PT. Litera AntarNusa, 2008), hlm, 30.

[17] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam,hlm, 37.

[18] Muhammas Husein Haekal, Usman bin Affan Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, hlm, 58.

[19] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam,hlm, 38.

[20] Marzuki Haji Mahmood, Isu-isu Kontroversi dalam Sejarah Pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, hlm, 79.

[21] Ali Audah, Ali bin Abi Talib Sampai kepada Hasan dan Husain, (Jakarta: PT. Litera AntarNusa, 2008), hlm, 187-190.

[22] Ibid, hlm, 123-242.

[23] Ibid, hlm, 267.

[24] Ibid, hlm, 338.

[25] Abul A’la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir, (Bandung: Karisma, 2007), hlm,61.

* Makalah ini telah dipresentasikan oleh khaerul azmi di kelas pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: