Dasar-Dasar Ilmu Pengatahuan (Filsafat Ilmu)

Desember 11, 2008 at 12:00 pm (Filsafat)

I. PENDAHULUAN

A. Filsafat Ilmu

Kalimat filsafat tentunya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita, terlebih dalam forum-forum sebelumnya kita sudah disuguhi tema-tema pengertian filsafat khususnya filsafat ilmu, namun sebelum memasuki pembahasan dasar-dasar filsafat ilmu, ada baiknya kita ulas kembali tentang apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu.

Dari padanan katanya filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang objek materinya berupa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis, bentuk dan sifatnya. Adapun objek formanya merupakan hakikat atau dasar ilmu pengetahuan.[1] Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu[2]. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru.

Untuk melakukan eksplorasi ke-ilmu-an tersebut filsafat ilmu mempunyai hakekat/ dasar ilmu pengetahuan, yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

II. PEMBAHASAN

A. Hakekat/ Dasar Ilmu Pengetahuan

Hakekat adalah keseluruhan unsur yang secara mutlak bersama-sama menentukan adanya sesuatu barang atau hal sebagaimana diri pribadinya sendiri, dan unsur-unsur tersebut bisa saja tergolong ke dalam satu jenis yang plural dan berbeda-beda. Pada dasarnya, ‘hakekat’ dapat dikategorikan menjadi 3 hal, yaitu hakikat jenis (bersifat abstrak), hakikat pribadi (bersifat potensial), dan hakikat individual (bersifat kongkret).[3]

Karena bersifat abstrak, maka hakikatr jenis ilmu pengetahuan masuk dalam pembahasana aspek ontologi; kerena sifat potensialnya, maka hakikat pribadi ilmu pengetahuan masuk dalam aspek epistemologi; dan karena konkret hakikat individual ilmu pengetahuan di bahas dalam aspek aksiologi, ini merupakan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.[4]

1. Ontologi; Hakikat Jenis Ilmu Pengetahuan

Ontologi, dalam bahasa inggris ontology, berasal dari bahasa yunani on yang berarti ada dan ontos yang berarti keberadaan, sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontologi adalah pemeikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Selanjutnya, menurut A.R. Lacey, ontology juga diartika sebagai “a central part of metaphysic” (bagian central dari metafisika).[5]

Istilah ontologi pertama kali muncul pada abad ke-17, kemudian oleh Ch. Wolf di sebut ”metafisika generalis”. Namun, oleh kan ontologi diganti dengan filsafat trasendental. Sesudah kant, istilah ontologi sempat lenyap dari filsafat modern, akan tetapi dihidupkan kembali oleh Neo-scholastik dan E. Husserl serta N. Hartmann. M. Heidegger merencanakan suatu ontologi yang serba baru, yang lebih radikal dari pada ontologi klasik.[6]

Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentru. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus: menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.[7]

Bebrapa karakteristik ontologi dapat kita sederhanakan menjadi sebagai berikut:

a. Ontologi adalah studi tentang arti ”ada” dan ”berada”, tentang ciri-ciri essensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak.

b. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebagainya.

c. Cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.[8]

d. Ontologi adalah filsafat wujud (Hasan Huwaidi)

e. Ontologi membicarakan mengenai hakekat terdalam dari segala sesuatu (S. Suriasumantri)

f. Ontologi membicarakan tentang hakekat kenyataan dan hakekat yang ada (Louis O. Kattsoft)

g. Ontologi berbicara mengenai yang ada tanpa menunjuk barang atau benda yang kongkrit, sama dengan membicarakan yang tiada (descartes)[9]

Ontologi dapat juga kita pahami sebagai pohon filsafat atau filsafat itu sendiri. Sebagai pihin filsafat, intologi ataupun metafisika umum selalu mempersoalkan dibalik segala sesuatu yang ada,[10] hakikat abstrak atau jenis menentukan kesatuan (kesamaan) dari berbagai macam jenis, bentuk dan sifat hal-hal atau barang-barang yang berbeda-beda dan terpisah-pisah.[11] Perbedaan dari orang-orang bernama azmi, khaerul, elfaridzie, dendaren dan lain sebagainya bertemu dan terikat dalam satu kesamaan manusia, sedangkan manusia, tumbuhan, hewan tersatukan dalam persamaan jenis sebagai makhluk. Jadi hakikat jenis adalah titik sifat abstrak tertinggi, dan studi tentang segala sesuatu yang abstrak ini masuk dalam cakupan kajian intologi (metafisika umum).

sesuai dengan penuturan di atas jika dikontekstualkan dengan ontologi dalam filsafat ilmu, maka ontologi bertugas menjawab pertanyaan tentang hakikat ilmu itu sendiri bahkan sampai dengan hakikat Tuhan sebagai pemilik ilmu, baik secara terpisah maupun secara terkait didalam satu kesatuan.

2. Epistemologi; Hakikat Pribadi Ilmu Pengetahuan

Epistemologi berasal dari bahasa yunani yaitu episteme, yang berarti ilmu. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang meneliti pengetahuan manusia, kepercayaan, serta tabi’at dan dasar pengalaman.[12] Jadi epistemologi adalah pengatahuan mengenai ilmu pengetahuan. Maka jika ontologi berupaya mencari secara reflektif tantang yang ada, sedangkan epistemologi membahas tentang terjadinya dan kesahihan atau kebenaran ilmu.

Permasalahana sentral epistemologi adalah mengenap persoalan apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya, ”what can we know, and how do we know it” (lacey: 1967). Selanjutnya Lacey juga menegaskan bahwa persoalan pokok dalam epistemologi adalah ”belief, understanding, reason, judgment, sensation, imagination, supposing, guesting, learning, and forgetting”.[13]

Sejak tahun 1960 epistemologi berkembang sangat pesat. Edmund Gettier memulai polemiknya dengan mempertanyakan apakah pembenaran (justifikasi) terhadap yang diyakini itu cukup untuk disebut sebagai ilmu?[14]

a. Teori Pembenaran Tradisional

Pada tahun 1970-an para ahli memfokuskan pada pembenaran epistemik. Pada tahun yang sama para epistemolog menela’ah dan merumuskan kembali dua teori pembenaran tradisional, yaitu: koherentisisme dan foundationalisme. Terjadinya perbedaan mengenai teori pengetahuan dalam epistemologi disebabkan oleh setiap ilmu pengetahuan memiliki potensi objek, metode, sistem dan tingkat kebenaran yang berbeda. Segala macam perbedaan tersebut berkembang dari perbedaan tajam tentang sudut pandang dan metode yang bersumber dari rasionalisme dan empirisme. Empirisme identik dengan teori korespondensi tentang kebenaran, sedangkan rasionalisme identik dengan teori koherensi. Dengan kata lain epistemologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang mempersoalkan tentang hakikat kebenara, karena semua pengetahuan mempersoalkan kebenaran.[15]

Para penganut foundationalisme klasik berpendapat bahwa semua pengetahuan dan pembenaran yang diyakini itu sepenuhnya berlandaskan pada pengetahuan dan pembenaran noninferesial. Maksusnya adalah, pembenaran hari ini turun hujan, dimaksudkan hanya membenarkan turun hujan; tetapi tidak ada maksud mengamalkan bahwa hari lain dengan kondisi yang sama akan juga turun hujan.

Berbeda dengan konherentisisme yang memandang bahwa yang diyakini itu tidak akan terlepas dari lingkaran dari semua yang diyakini. Yang diyakininya: tampil kaya akan dihormati, maka jajan di warung tegal, tidak akan mau. Dikenal orang miskin juga tidak mau, karena malu dianggap miskin juga.[16]

b. Indra dan Akal sebagai Uji Kebenaran

Melalui pengindraan dan kemampuan akal pikiran, akan terbentuk kepribadian ilmu ke dalam dua karakter, yaitu empirik dan rasional, dalam struktur metodologis yang dialektis verifikatif. Artinya keduanya bisa saling mengukur kebenaram tersebut, misalnya hasil kerja pengindraan atau empirik dapat diuji dengan cara kerja pikiran rasional, begitu pula sebaliknya. Struktur metodologis demikian diharapkan mampu menghadirkan kualitas kebenaran yang dapat dipercaya.

Dengan kepribadian empirik, ilmu pengetahuan memiliki komitmen terhadap perubahan dan kemajuan, dan dengan kepribadian rasional berari ilmu pengetahuan mempunyai daya pengukuran terhadap perubahan dan kemajuan tersebut. Dengan kepribadian monodualistik ini, berarti ilmu pengetahuan tidak melepaskan diri dari landasan ontologi, dan dengan demikian sekaligus memberikan landasan terhadap aspek etika. Kemudian, persoalan tentang hakikat pribadi monodualistikilmu pengetahuan, tercermin dalam tiga teori kebenaran epistimologis, yaitu teori koheren, teori koresponden, dan teori pragmatik.[17]

c. Teori Kebenaran Epistimologi

Pertama, teori konheren. Teori ini dibangun atas dasar hakikat pribadi ilmu pengetahuan. Karena bersifat rasional, maka kebenaran ilmiah teoritis dipandang dalam ruang lingkupbertaraf abstrak ideal. Ukuran kebenaran ditentukan dengan tingkat rasional.

Kedua, teori koresponden. Teori ini dibangun berdasarkan hakikat empirik ilmu pengetahuan. Karena itu kebenaran ilmiah teoritis dipandang dalam ruang lingkup kongkret realistik. Jadi segala kebenaran harus mampu dibuktikan secara nyata.

Ketiga, teori pragmatik. Teori ini dibangun berdasarkan hakikat rasional dan empirik ilmu pengetahuan. Kebenaran ilmiah teoritis dipandang dalam lingkup dialektis rasional dan empirik. Akibatnya ukuran kebenaran dalam teori ini berstandar dua dengan menekankan pada ’nilai kegunaan’. Suparlan mengatakan, epistemologi juga harus menggunakan metode analisis dan sintesis yang masing-masing dilengkapi dengan peralatan induktif dan deduktif.[18] Pada perjalanannya terbukti bahwa hasil pengenalan tersebut secara klasik akan disajikan dalam pemikiran kuantitatif dan kualitatif. Dalam tampilan kuantitatif akan muncul monisme atau pluralisme atau paralelisme antara yang sensual, logik, ethik, dan yang trasenden. Sedangkan dalam tampilan kualitatif akan muncul materealisme, idealisme, naturalisme.[19]

3. Aksiologi; Hakikat Individual Ilmu Pengetahuan

Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai dan logos berarti teori/ilmu. Jadi aksiologi adalah teori/ilmu tentang nilai. Menurut Suriasumantri (1987 : 234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.[20]

Max Scheler seorang phenomenologyst, sebagai seorang katolik ia memasukan teologinya dalam pandangan-pandangannya terhadap ontologi. Dalam epistemologi ia memasukan unsur interpretasi dalam phenomenon; pengetahuan baginya bukan sekedar pengenalan pada sesuatu yang sensual. Dalam aksiologinya, scheler menampilkan konsep-konsep ethiknya tentang werthfuehlen (pengalaman nilai), serta bedanya gueter (yang baik) dengan werte (yang mempunyai value). Tentang value ia membaginya dlam empat jenis; pertama value sensual, dalam tampilan seperti menyenangkan dan tidak menyenangkan; kedua nilai hidup, seperti edel (agung) atau gemein (bersahaja); ketiga, nilai kejiwaan, seperti: nilai aestetis, nilai benar-salah, dan nilai intrisik ilmu; dan yang keempat, nilai religius, seperti yang suci dan yang sakral.[21]

Adapun Menurut Bramel, aksiologi terbagi tiga bagian, yaitu:

a. Moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yaitu etika.

b. Estetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan.

c. Sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosial politik.

Di atas kita telah singgung sedikit tantang etika, karena aksiologi sangat adalah ilmu yang berhubungan dengan nilai (value), maka ada baiknya kita ulas sedikit apa itu etika.

Etika berasal dari kata ethos yang berarti susila, adat-istiadat, atau juga disebut sebagai filsafat moral.[22] Tradisi filsafat membagi etika ke dalam etika normatif dan mataetika (etika kreatif). Yang pertama, mempersoalkan pengukuran perbuatan baik dan benar berdasarkan norma-norma konvensional sebagai petunjuk atau penuntun perilaku. Sedangkan yang kedua, cenderung bersifat filosofis, pengukuran perbuatan baik dan benar berdasar pada analisis kritis logis.[23] Kedua krateria inilah yang kemudian menjadi pedoman dan pegangan ’bagaimana seharusnya seseorang berperilaku’. Karena adanya dikotomi etika normatif dan kreatif oleh filsafat, maka etika mempersoalkan tingkah laku dalam standar ganda, yaitu tingkah laku yang berdasarkan normatif (adat-istiadat ataupun agama) serta tingkah laku yang berdasarkan tujuan yang analisis dan logis. Dengan demikian, Aksiologi mempertanyakan, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?.[24]

Jika kita merunut latar belakang terbentuknya: mengapa an untuk apa ilmu pengetahuan itu ada, maka jawabanya akan dikembalikan kepad manusia itu sendiri. Karena manusialah subjek dari ilmu pengetahuan, terlebih jika tidak ada manusia maka ilmu pengetahuan juga mustahil ada dan berkembang. Dengan potensi kejiwaan berupa daya cipta, rasa, dan karya, manusia terdorong untuk mengetahui segala sesuatu dan kebenaran yang ada. Kemudian, setelah kebenaran tersebut mereka dapatkan, seharusnya dapat secara kreatifg dipergunakan sesuai dengan aksiologinya.

III. KESIMPULAN

Filsafat ilmu sebagai sebuah metodologi tentunya mempunyai dasar-dasar terbangunnya sebuah produk ilmu pengetahuan, dari pemaparan diatas kita tentunya mampu mengambil garis besar, bahwa ada tiga sumber ilmu pengetahuan, yaitu: ontologi, epistemologi, dan akseologi. Ketiganya tidak terpisahkan, karena ketiganya saling berkaitan dalam konteks estafet perkembangan ilmu pengetahuan.

Pertama, Ontologi membahas hal-hal paling abstrak dalam pengetahuan, dia lebih banyak mempertanyakan kebenaran akan sesuatu itu ’ada’. Sehingga pembahasannya hanya berkisar pada hal-hal yang metafisik dan absolut, dalam beberapa hal ontologi disebut sebagai ’pohon’ ilmu.

Kedua, Epistemologi melanjutkan hasil kebenaran yang didapatkan pada ranah ontologi, yaitu dengan melakukan uji kebenaran, baik dengan metode; konheren, yaitu dengan menggunakan indra sebagai instrumen sehingga dapat memberikan hasil berupa kebenaran yang empirik; dengan metode koresponden, yaitu dengan menggunakan akal pikiran sebagai instrumen sehingga dapat memberikan hasil berupa kebenaran yang rasional; yang terakhir adalah dengan metode pragmatik, yaitu dengan menggabungkan kedua metode di atas. Kedua metode tersebut bisa saling menguji, akal dan indra berjalan sebagai instrumen sehingga kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran yang empirik-rasional.

Ketiga, aksiologi yaitu ilmu tentang nilai dan etika bagi manusia yang menjadi subjek dari ilmu pengetahuan tersebut, ilmu ini berada di wilayah benar-salah, baik-buruk, menyenangkan-tidak menyenangkan dan lain sebagainya. Pada dasarnya ilmu ini bertugas untuk menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? ini adalah nilai-nilai (value) sebagai tolak ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu.


[1] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2008), 27.

[2] Cacing Cau, “Dunia Baru”, dalam http://cacau.blogsome.com/2008/01/08/filsafat-ilmu/ (08 Januari 2008)

[3] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 127.

[4] Anton Sujarwo, “Aksiologi” dalam http://antonmath.wordpress.com/7/ (13 september 2008)

[5] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 128.

[6] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), 68.

[7] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), 57.

[8] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 129.

[9] Masduqi Affandi, Ontologi Dasar-dasar Filosofi Dakwah (Surabaya: Diantama, 2007), 1.

[10] Suparlan Suhartono, Dasar-dasar Filsafat (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 117.

[11] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 129.

[12] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, 22.

[13] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pen

getahuan, 136.

[14] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 60.

[15] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 136.

[16] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 60.

[17] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 141.

[18] Suparlan Suhartono, Dasar-dasar Filsafat, 120.

[19] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 64.

[20] Anton Sujarwo, “Aksiologi” dalam http://antonmath.wordpress.com/7/ (13 september 2008)

[21] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 64.

[22] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, 23.

[23] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 141.

[24] Cacing Cau, “Dunia Baru”, dalam http://cacau.blogsome.com/2008/01/08/filsafat-ilmu/ (08 Januari 2008)

* Makalah ini telah ditulis dan dipresentasikan oleh Khaerul Azmi di kelas pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: