Tadwin al-Hadis dan Penyebarannya

Desember 11, 2008 at 12:11 pm (Ilmu-Ilmu ke-Islam-an)

I. PENDAHULUAN

Sebelum kita membahas tadwin al-hadist atau yang dikenal sebagai masa kodifikasi hadist, ada baiknya kita kaji pertumbuhan hadist pada masa tabi’in, karena sedikit banyak ada beberapa alasan dan rasionalisasi urgensi kodifikasi hadist.

Pada masa tabi’in al-qur’an telah dikumpulkan dalam satu mushaf dan para sahabat telah tersebar ke beberapa wilayah kekuasaan islam, sehingga para tabi’in dapat mempelajarei hadist dari mereka. Ketika pemerintahan dipegang oleh Bani Umayah, wilayah kawasan islam telah meliputi Mesir, Persia, Iraq, Afrika Selatan, Samarkand, dan spanyol, di samping Madinah, Mekah, Basrah, Syam, dan Khurasan. Pesatnya perluasan wilayah kekuasaan islam, dan meningkatnya penyebaran para sahabat ke daerah-daerah tersebut menjadikan masa ini dikenal sebagai masa penyebaran periwayatan hadist (Intisyar ar-Riwayah Ila al-Amshar).[1]

Perluasan wilayah islam mendatangkan sebuah tanggungjawab besar untuk menjaga kesatuan dan membendung kepentingan kelompok, namun pergolakan politik memang tidak bisa dihindarkan.sebenarnya sejak masa sahabat telah terjadi pergolakan politik yang nyata, ditandai dengan terjadinya perang Jamal dan perang Shiffin, yaitu ketika kekuasaan dipegang oleh Ali Bin Abi Thalib. Namun, akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut dengan terpecahnya umat islam kedalam beberapa kelompok (Khawarij, Syi’ah, Muawwiyah dan golongan mayoritas yang tidak masuk kedalam salah satu kelompok tersebut).[2]

Sejak terbunuhnya khalifah Usman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Thalib serta Muawiyah yang masing-masing ingin memegang jabatan khalifah, maka umat Islam terpecah menjadi tiga golongan, yaitu syiah. khawarij, dan jumhur. Masing-masing kelompok mengaku berada dalam pihak yang benar dan menuduh pihak lainnya salah. Untuk membela pendirian masing-masing, maka mereka membuat hadis-hadis palsu. Mulai saat itulah timbulnya riwayat-riwayat hadis palsu. Orang-orang yang mula-mula membuat hadis palsu adalah dari golongan Syiah kemudian golongan khawarij dan jumhur, Tempat mula berkembangnya hadis palsu adalah daerah Irak tempat kamu syiah berpusat pada waktu itu.[3] Namun, pemahaman sejarah ini tentunya harus kita kaji ulang lewat beberapa susut pandang yang berbeda, karena ini akan berhubungan langsung dengan siapa yang berkuasa di saat hadis dikodifikasikan.

Langsung ataupun tidak, dari pergolakan politik tersebut membawa pengaruh besar terhadap perkembangan hadis berikutnya, setidaknya ada dua pengaruh secara langsung yang berhubungan dengan perkembangan hadis, yang pertama dan negatif adalah munculnya banyak hadis palsu untuk medukung kepentingan politik kelompok tertentu dan menjatuhkan lawan politiknya. Pengaruh yang bersifat positif ialah adanya rencana untuk mengkodifikasi hadis atau dikenal dengan tadwin al-hadist sebagai bentuk penyelamatan terhadap pemusnahan dan kehadiran hadis, akibat konsukensi logis dari pergolakan politik tersebut.

II. PENGHIMPUNAN HADIS

Secara bahasa, tadwin diterjemahkan dengan kumpulan shahifah (mujtama’ al-Shuhuf). Secara luas tadwin diartikan dengan al-Jumu’ (mengumpulkan). Al-Zahrani merumuskan pengertian tadwin sebagai berikut:

Artinya:

“ mengikat yang berserak-serak kemudian mengumpulkannya menjadi satu diwan atau kitab yang terdiri dari lembaran-lembaran”.[4]

Pada masa Khalifah Umar Bin Khattab, beliau pernah mencetuskan ide untuk mengkodifikasi hadis, namun ide tersebut urung dilaksanakan karena beliau khawatir itu akan mengganggu para sahabat dalam mempelajari al-Qur’an atau bahkan terjadi pencampur-adukan di dalamnya. Pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang dinobatkan pada akhir abad pertama hijriyah. Selain alasan di atas beliau juga khawatir dengan banyaknya para pe-rawi hadis yang semakin sedikit jumlahnya karena meninggal dunia. Sehingga pada tahun 100 Hijrah Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadis-hadis Nabi yang terdapat pada para penghapal.[5] Sebagaimana tertuang dalam suratnya:

Artinya:

“Perhatikan atau periksalah hadis-hadis Rosulullah S.A.W. kemudian tuliskanlah! Aku khawatir akan lenyapnyailmu dengan meninggalnya para ulama (para ahlinya). Dan jangalah kamu terima kecuali hadist Rosulullah”.[6]

Khalifah mengintruksikan kepada Abu Bakar bin Hazm agar mengumpulkan hadis-hadis yang ada pada Amrah binti Abdurrahman al-Anshari (murid kepercayaan Sitti Aisyah) dan Al-Qashim bin Muhammad bin Abi Bakar. Intruksi yang sama juga ia berikan kepada Muhammad bin Syihab Az-Zuhri yang dinilainya sebagai orang yang lebih banyak mengetahui hadis dari pada yang lain.[7]

Ulama yang pertama kali berhasil menghimpun hadis dalam satu kitab sebelum khalifah meninggal adalah Muhammad bin Muslim bin Syihab bin Zuhri al-Madani (w. 124 H) ia seorang ulama besar di Syam dan Hijaz. Sepeninggalan Khalifah Umar bin Abdul Aziz kegiaan penghimpunan hadis berjalan terus. Pada thabaqot setelah thabaqot az-Zuhri dan Abu Bakar bin Hazm, bermunculan banyak penghimpun hadis terkemuka. Dan dalam hal ini para ulama berbeda pendapat mengenai karya siapa yang terdahulu muncul. Ada yang berpndapat, bahwa ulama yang pertama kali menghimpun hadis pada thabaqot ini adalah Ibnu Juraij (w.150 H). Ada juga yang mengatakan, bahwa orang yang terdahulu menghimpun hadis dalam sebuah kitab adalah Malik bin Anas (w. 179 H), namun ada juga yang berpendapat orang tersebut bukan lah keduanya, melainkan al-Rabi’ bin Subaih.[8]

Pada thabaqat ini, yaitu pada abad kedua hijrah, pengumpulan hadis nabi masih bercampur dengan qaul sahabat dan fatwa-fatwa at-Tabi’in, Artinya karya-karya mereka tidak hanya menghimpun hadis Nabi, tetapi juga menghimpun fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in.[9] Meskipun pada masa ini tergolong banyak penghimpun hadis yang terkenal, namun sangat disayangkan karya besar mereka yang sampai kepada kita sangatlah terbatas, diantaranya asalah al-Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas.

III. PENYELEKSIAN DAN PENYEMPURNAAN PENGHIMPUNAN HADIS

Telah dikatakan sebelumnya bahwa penghimpunan hadis pada thabaqot pertama masih tercampur didalamnya dengan fatwa para sahabat dan thabi’in, sehingga dilakukan penyaringan dan seleksi hadis pada saat dinasti Abassiyah berkuasa, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah al-Makmun sampai dengan al-Muktadir, yaitu pada abad ke-II hijrah (sekitar tahun 201-300 H)[10]

Pada masa ini para penghimpun hadis benar-benar mencoba memisahkan klasifikasi hadis-hadis yang maqbul dari yang mardud dengan menggunakan metode isnad dan sanad. Metode isnad dan sanad ialah metode yang digunakan untuk menguji sumber-sumber pembawa berita hadis (perawi) dengan mengetahui keadaan para perawi, riwayat hidupnya, kapan dan dimana ia hidup, kawan semasa, bagaimana daya tangkap dan ingatannya dan sebagainya. Ilmu tersebut dibahas dalam ilmu yangdinamakan ilmu hadis dirayah, yang kemudian terkenal dengan ilmu musthalahul hadis.[11]

Orang yang pertama kali menyusun kitab musnad adalah Abu Dawud bin al-Jarud at-Thayalisi (133-204 H). Kemudian disusul oleh ulama semasanya dari kalangan atba’ al-thabi’in dan generasi sesudahnya, antara lain: (1). Asad bin Musa al-Umawi (w. 212 H), ia ulama pertama yang menyusun kitab musnad di Mesir, (2). ‘Ubaidillah bin Musa al-‘Abasi (w. 213 H), (3). Musaddad al-Basri (w. 228 H), (4). YAhya bin ‘Abd al-Hamid al-Hamani al-Kuffi (w. 228 H), menurut Ibn Adi, beliau lah yang pertama kali menyusun kiab musad di Kuffah, (5). Nu’aim bin Hammad al-Khaza’I al-Misri (w. 228 H), (6). Ahmad bin Hambal (164-241 H), al-musnad Ahmad bin Hambal ini oleh ulama dipandang sebagai al-musnad yang paling lengkap dan komprehensif, (7). Ishaq bin Rahawiyah (161-238 H), (8). ‘Utsman bin Abu Syaibah (156-239 H), Ya’qub bin Abi Syaibah (w. 363 H), dan lain sebagainya. Karena al-musnad merupakan karya yang menghimpun hadis Rasul yang disusun berdasarkan nama sahabat periwayat hadis, maka masing-masing penyusun menggunakan beragam cara di dalam menyusun nama-nama sahabat. Kalangan mereka ada yang menyusun nama sahabat berdasarkan urutan masa masuk islam, dan ada pula yang menyusun nama sahabat berdasarkan huruf mu’jam (alphabet).[12]

Selain itu, pada pertengahan abad ke-2 H telah muncul juga karya-karya himpunan hadis yang babnya tersusun-susun seperi bab-bab dalam ilmu fiqh. Penyusun karya macam ini ada yang membatasi karyanya hanya menuturkan hadis-hadis shahih, dan ada juga penyusun yang selain menghimpun hadis shahih, juga menghimpun hadis-hadis yang kualitasnya di bawah hadis shahih.

Adapun penyusun yang membatasi hadis-hadis yang dihimpunnya berkualitas shahih adalah seorang ulama terkemuka Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhori (194-252 H) dengan kitabnya al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-muktashar bil umur al-Rasulallah wa Sunanihi wa Ayyamihi dan lebih dikenal dengan sebutan al-Jami’ al-Shahih. Sedangkan kitab hasil karya Muslim bin Al-Hajjaj al-Qusyairi (204-261 H) berjudul al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunan bi Naql al-Adl ‘an Adl Rasul Allah S.A.W dan dikenal dengan sebutan al-Jami’ al-Shahih.[13]

Berkat keuletan dan kerja keras para ulama hadis pada masa ini, maka bermunculanlah kitab-kitab hadis yang hanya memuat hadis-hadis shahih. Kitab-kitab tersebut pada perkembangannya dikenal dengan sebutan kutub as-sittah (kitab induk yang enam). Kutub al-Sittah merupakan sebutan untuk beberapa karya ulama besar hadis pada masa penyempurnaan kodifikasi hadis, yaitu oleh Imam Bukhori (194-525 H), Imam Muslim ( 204-261 H), Abu daud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishak as-Sijistani (202-275 H), Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah At-Tirmidzi (200-279 H), Abu Abdul ar-Rahman bin Suaid Ibn Bahr An-Nasa’I (215-302 H), dan Abu Abdillah Ibnu Yazid Ibnu Majah (207-273 H), adapun karya keempat ahli hadis terakhir disebut sebagai kitab As-Sunan. Menurut para ulama, kualitas As-Sunan berada dibawah kitab As-Shahih karya Bukhari dan Muslim.

Secara lengkat kitab-kitab yang enam diurutkan sebagi berikut:

1. Al-Jami’ As-Shahih susunan Al-Bukhari

2. Al-Jami’ As-Shahih susunan Muslim

3. As-Sunan susunan Abu Daud

4. As-Sunan susunan Tirmidzi

5. As-Sunan susunan Nasa’i

6. As-Sunan susunan Ibnu Majah[14]

Dengan demikian, pada masa ini lah kodifikasi secara sistematis, kritis dan yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian dalam menyeleksi benar-benar terselesaikan. Setelah ini tidak ada lagi karya-karya ahli hadis yang memiliki kualitas atau menyamai kualitas al-Kutub al-Sittah tersebut. Masa-masa kelengkapan pada masa abad ke-3 Hijrah ini disebut masa al-Dzahabi,[15] pada masa ini para poembesar imam hadis telah bermunculan dan al-Kutub al-Sittah telah selesai disusun.

IV. MASA PENGEMBANGAN DAN PENYEMPURNAAN SISTEM PENYUSUNAN KITAB-KITAB HADIS

Setelah masa-masa penyeleksian dan penyempurnaan penghimpunan hadis, terlebih setelah munculnya al-Kutub al-Sittah dan al-Muwattha’ Malik serta Musnad Ahmad bin Hambal, para ulama hadis mulai mengalihkan perhatiannya untuk menyusun kitab-kitab jawami’, kitab Syarah muhtasyar, men-takhrij, menyusun kitab Athraf dan jawa’id serta melakukan penyusunan kitab hadis untuk topik-topik tertentu.

Diantara ulama yang masih melakukan penyusunan kitab hadis yang memuat hadis-hadis shahih ialah Ibnu Hibban Al-Bisti (w. 354 H), Ibnu Huzaimah (w. 311 H), dan Al-Hakim Al-Naisaburi[16] (321-405 H)[17]. Namun, pada masa ini penyusunan kitab mengarah kepada usaha mengembangkan dengan beberapa variasi pentadwinan terhadap kitab-kitab yang sudah ada, diantaranya dengan mengumpulkan isi kitab shahih Bukhari dan Muslim, sebagaimana yang dilakukan oleh Muhammad Ibnu Abdillah Al-Jauzaqi dan Ibnu Al-Furrat. Mereka juga mengumpulkan isi kitab yang sama, seperti yang dilakukan oleh Abdul Al-Haq Ibnu Abdul Ar-Rahman As-Syabili (lebih dikenal dengan Ibnu Al-Kharrat), Al-Fairu Az-Zabadi, dan Ibnu Al-Asir Al-Jazari. Ada juga yang mengumpulkan kitab-kitab hadis mengenai hokum, seperti yang dilakukan oleh Ad-Daruqutni, Al-Baihaqi, Ibnu Daqiq Al-Ied, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.[18]

Masa perkembangan hadis yang terkhir ini berlangsung cukup lama, yaitu mulai abad keempat hijriyah dan berlangsung terus sampai beberapa abad sesudahnya hingga abad kontemporer.[19] Dengan demikian masa perkembangan penyempurnaan hadis melewati dua fase sejarah perkembangan islam, yaitu fase pertengahan dan fase modern hingga sekarang.

Gerakan tadwin di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama; tapi di sisi lain menyebabkan ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. Mereka tidak merasa perlu untuk melakukan penelitian ulang. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah dan matan. Maksudnya untuk memudahkan pemabaca memahami kitab-kitab rujukan. Mereka menjelaskan kata-kata ataupun kalimat-kalimat secara sematik, atau menambahkan penjelasan dengan mengutip kata-kata ulama lain. Tidak jarang syarah suatu kitab di-syarahi dan di-syarahi lagi. Untuk shahih Al-Bukhari saja (sepanjang yang diketeahui) ada tiga kitab syarah,yaitu: Fath al-Barry, Irsyad al-Syari, Umdat al-Qarry, ada pula beberapa kitab yang men-syarah al-Muwattha’ karya Imam Malik.[20]

V. KESIMPULAN

Kodifikasi hadis tentunya tidak terlepas dari pengaruh gejolak perpolitikan Negara Islam yang mulai melebarkan sayapnya kebeberapa daerah lain, serta tidak pula luput dari inisitif pemerintahan Umar bin Abdul Aziz khalifah berkuasa kala itu yang mengambil tindakan preventif untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dan pemalsuan hadis, meskipun harus dicatat bahwa sangat mungkin hadis juga diintervensi oleh penguasa saat itu untuk melegitimasikan kekuasaannya dan membenarkan tindakannya, mengingat inisiatif kodifikasi muncul setelah adanya perpecahan dalam islam baik oleh permasalah politis maupun ideologis.

Pada masa penghimpunan perdana, para asli hadis belum melakukan banyak seleksi terhadap ke-shahih-an hadis, namun hanya membukukan hadis yang terkumpul dari beberapa ulama yang (dianggap) dipercaya saat itu memiliki bank hadis yang cukup memadai.

Pasca kodifikasi hadis yang dilakukan oleh Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri al-Madani dan Abu Bakar bin Hazm, penyeleksian hadis dengan metode sanad dan isnad terus dilakukan secara intensif untuk memisahkan yang shahih, dhaif, atau bahkan matrud. Kerja keras para ulama masa ini menghasilkan dua kitab shahih dan empat kitab sunan, yang keenamnya kemudian kita kenal dengan al-kutub al-sittah.

Masa setelah terkodifikasinya al-kutub al-sittah, pengkodifikasian hadis hanya berupa penyempurnaan system penyusunan kitab-kitab hadis. Para ulama mengalihkan perhatiannya pada takhrij al-hadis, menyusun kitab hadis pertopik/tema, dan lain sebagainya. Masa ini terbentang dalam waktu yang sangat panjang yaitu mulai dari abad keempat hijriyah dan berlangsung hingga sekarang. Artinya, masa ini telah melewati dua fase sejarah perkembangan islam, yaitu fase pertengan dan fase modern.

[1] Mudasir, Ilmu Hadis (Bandung:Pustaka Setia, 2007), 101.

[2] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis (Semarang: RaSAIL Media Group, 2007), 89.

[3] Arsip Pustaka Islam, “Ulumul Hadis”, dalam http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/4/1/pustaka-93.html (19 September 2008).

[4] Munzier Suparta, Ilmu Hadis (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), 88.

[5] Muhammad Ahmad-M. Mudzakir, Ulumul Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 33.

[6] [6] Mudasir, Ilmu Hadis, 105.

[7] Ibid., 106.

[8] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis, 92.

[9] Ibid., 92.

[10] Mudasir, Ilmu Hadis, 109.

[11] Muhammad Ahmad-M. Mudzakir, Ulumul Hadis, 34.

[12] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis, 93.

[13] Ibid., 94.

[14] Mudasir, Ilmu Hadis, 110.

[15] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis, 95.

[16] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, 93.

[17] Muhammad Ahmad-M. Mudzakir, Ulumul Hadis, 41.

[18] Mudasir, Ilmu Hadis, 111.

[19] Ibid., 111.

[20] Jalaluddin Rahmat, “Tinjauan Kritis atas Sejarah Fiqh; dari Khulafa’urrasyidin hingga Madshab Liberalisme”, dalam http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/SejarahFiqh05.html, (19 September 2008).

* makalah ini telah dipresentasikan oleh khaerul azmi di kelas pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: