Kontroversi Seputar Pengangkatan Khalifah Pasca Nabi SAW

Desember 11, 2008 at 12:30 pm (Ilmu-Ilmu ke-Islam-an)

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Di tangan Nabi, Islam bercokol di tanah Arab tidak hanya dalam bentuk suatu agama, namun Islam juga memunyai semangat untuk membentuk suatu pemerintahan. Dalam mewujudkan sebuah tatanan moral baru dan menyeluruh, Muhammad telah menyusun kembali sebahagian besar unsur-unsur system Mekkah dari kaum Quraisy di dalam sebuah system baru dan lebih luas. Pada masa hidupnya nabi, al-Qur’an telah sedemikian rupa menopang beliau dalam menjalankan pemerintahannya, namun secara tipikal al-Qur’an tidak mengurus kemungkinan-kemungkinan gejolak politik pada hari meninggalnya Nabi atau bahkan pasca kematian Nabi.

Meskipun beberapa orientalis barat memandang bahwa Dakwah Nabi telah bergeser dari semangat islam kepada semangat politik, sebagaimana yang diungkapkan oleh H.A.R. Gibb, bahwa Muhammad bersama risalah agamanya berubah sekali selepas peristiwa hijrah, kerena selama di Makkah ia benar-benar melaksanakan kerja agama, namun selepas pindah ke Madinah hal tersebut bertukar menjadi suatu gagasan politik, gerak laku Muhammad juga berubah dari yang pasif menjadi agressif.[1]

Pertanyaan pertama yang muncul pasca wafatnya Nabi adalah apa memang perlu ada Negara yang harus melastarikannya. Sebahagian orang dari komunitas ummat yang Muhammad ciptakan mempunyai konsepsi islam yang cukup ambisius. Bagi mereka, islam bukan semata-mata pengabdian seseorang kepada Tuhan; Islam merupakan sebuah kesatuan yang kompak dimana semua muslim terikat satu dengan lainnya. Kesatuan yang kompak ini tidak harus buyar dengan wafatnya Sang Nabi; pola hidup yang telah beliau lembagakan dapat diteruskan di bawah pengayoman orang-orang terdekatnya, yaitu kaum muslimin awal (as-sabiqunal awwalun). Hingga siapa saja yang memisahkan diri dari inti kaum muslimin di Madinah pada dasarnya telah mengingkari Islam itu sendiri; mereka adalah para penkhianat pada tujuan Allah yang telah begitu lama diperjuangkan oleh Muhammad dan para pengikutnya. Tujuan tersebut masih harus diperjuangkan, dan membutuhkan seorang pemimpi tunggal yang diterima oleh semua pihak dikalangan kaum muslimin.

Abu Bakar dan Umar dianggap berjasa dalam meyakinkan kaum muslimin Madinah pada pandangan yan berani ini. Mereka keluar dari barisan para pemimpin Madinah yang sedang berkumpul dan dan menyeru kepada kesatuan: Uma kemudian mengucapkan sumpah setianya kepada Abu Bakar, dan kaum Anshar segera mengikutinya sebagaimana kaum Quraisy.[2]

Jadi pada prinsipnya, Nabi dikala wafatnya tidak hanya mewariskan Islam sebagai sebuah Agama, namun beliau juga mengamanatkan sebuah kerjaan, pemerintahan, Negara, dan apapun namanya bagi penduduk mekkah dan yang ada dibawah kekuasaannya.

Demikianlah sehingga dalam pembahasan, penulis akan menjelaskan proses berdirinya khilafah dalam Islam, sampai pada sejarah pemerintahan khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali).

II. Rumusan Masalah

Pada bagian rumusan masalah, penulis akan berusaha untuk memfokuskan kajian terhadap beberapa hal yang paling penting dalam sejarah khulafa’ al-Rasyidin, yaitu tentang:

1. Sejarah berdirinya Khilafah sepeninggal Nabi Muhammad.

2. Perkembangan Khilafah pada masa Abu Bakar.

3. Perkembangan Khilafah pada masa Umar.

4. Perkembangan Khilafah pada masa Utsman.

5. Perkembangan Khilafah pada masa Ali.


BAB II

PEMBAHASAN

I. Sejarah Berdirinya Khilafah Sepeninggal Nabi.

Sebelum kita membahas tentang sejarah khilafaf dalam islam, alangkah baiknya bila kita memahami dulu makna dari khilafah. Secara bahasa, khilafah berasal dari kata khalafa yang artinya orang yang menyusul selepas orang yang terdahulu, atau pengganti orang yang lalu, seterusnya lahirlah kalimat khalifah yang berarti pemimpin atau tertua tertinggi.[3] Jadi yang dimaksud oleh penulis dengan sejarah berdirinya khilafah sepeninggal Nabi adalah, sejarah pemimpin dan pemerintahan Islam setelah wafatnya Nabi.

Ketika Nabi wafat, para sahabat dihadapkan pada permasalahan besar yang berkaitan dengan kekuasaan, terlebih kala itu pengaruh rasulullah telah tersebar dan meluas ke kawasan arab yang lain. Banyak di antara daerah-daerah tersebut yang telah menganut Islam, mereka juga telah patuh untuk membayar jizyah, lalu masih berlanjutkah pengaruh Madinah? Jika ya, siapakah dari penduduk kota tersebut yang akan memegang tanggung jawab?.

Setelah meninggalnya Nabi, kaum Anshar berkumpul di Saqifah banu sa’idah, di sana Sa’ad bin Ubadah berpidato dihadapan majlis Anshar, dan memberikan propaganda bahwa yang layak untuk duduk menggantikan Nabi di Madinah adalah dari kaum Anshar, yaitu Sa’ad bin Ubadah, namun sebelum pembai’atan terjadi Umar mendengar bahwa kaum Anshar akan membai’at Sa’at bin Ubadah di Tsaqifah Banu Sa’idah, sehingga dengan tergesa-gesa Umar mendatangi Umar untuk menemui kaum Anshar di tsaqifah.

Pertemuan di tsaqifah sangat lah penting dalam sejarah Islam yang baru tumbuh itu. Jika dalam pertemuan ini Abu Bakar tidak memperlihatkan sikap tegas dan kemauan yang keras –seperti juga di kawasan arab yang lain— justru di kandang sendiri hamper saja agama baru ini menimbulkan perselisihan, sementara jenazah pembawa risalah itu masih ada di dalam rumah, belum lagi dikebumikan.[4]

Walaupun lewat perdebatan yang cukup sengit antara kaum Muhajirin yang diwakili oleh Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah, dengan kaum Anshar, akhirnya Abu Bakar di Bai’at di tsaqifah meskipun Sa’ad bin Ubadah tidak membai’atnya hingga wafatnya Abu Bakar. [5]

Setelah pembai’atan di tsaqifah diadakanlah pembai’atan umum dan pidato Abu Bakar yang pertama sebagai Khalifah, namun sebenarnya dalam konsensus ini pun masih belum di ikuti oleh seluruh kaum muslimin, bahkan beberapa sahabat Muhajirin ada yang tidak ikut membai’at Abu bakar, seperti Ali bin Abi Thalib, dan Abbas bin Abdul Muthalib hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib membai’at enam bulan kemudian setelah wafatnya Fatimah binti Muhammad.[6]

Memang ada beberapa perbedaan pandapat yang diungkapkan oleh ahli sejarah berkenaan dengan pembai’atan terhadap kekhalifahan Abu Bakar, ada juga yang diantaranya menyatakan bahwa seluruh kaum muslimin membai’atnya sebagaimana yang tertulis di www.albayyinat.net berkenaan dengan pengangkatan Abu bakar dikatakan, “dan saat itu tidak ada satu orangpun yang protes atau tidak menyetujui pembai’atan tersebut. Hal mana karena semua sepakat, agar kekosongan pimpinan harus segera diisi. Bahkan pemakaman Nabi terpaksa diundur, karena menunggu terpilihnya Khalifah. Apabila ada keterlambatan dari dua tiga orang dalam membai’at dikarenakan alasan masing-masing, toh akhirnya semua menerima dengan ikhlas pengangkatan sayyidina Abu Bakar.[7] Namun, fakta sejarah apapun yang terjadi saat itu, bahwa pemerintahan Abu Bakar merupakan tonggak sejarah kelangsungan pemerintahan Islam, serta di bawah kekuasaannyalah Khilafh pertama dalam Islam.

II. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq.

Setelah kita bahas beberapa hal tentang proses pembentukan kehalifan yang pertama, selanjutnya kita coba untuk memahami bebrapa hal penting yang dilakukan oleh abu bakar dalam kekhilafahannya.

Dengan realita bahwa terdapat banyak pro-kontra dalam kekhalifahan Abu Bakar pasca sepeninggal Nabi, maka tidaklah aneh jika dalam pemerintahannya Abu Bakar lebih banyak terpakai untuk menstabilkan politik dalam negri, dengan adanya kemunculan nabi palsu ataupun kelompok-kelompok yang murtad sepeninggal Nabi. Untuk menstabilkan politik dalam negeri di Madinah Abu Bakar mengirim 11 panglima untuk melakukan tugas tersebut, adapun panglima yang dimaksud adalah:

1. Khalid bin Walid yang bertugas untuk memerangi Thulaihah bin Khuwailid yang mengaku nabi dan pemberontakan di Battah Arab Selatan yang dipimpin oleh Malik bin Nuwairah.

2. Ikrimah bin Abu Jahal yang bertugas untuk memerangi Musailamah al-Kadzab yang mengaku sebagai nabi dari Bani Hanifah yang terletak di pesisir timur Arab.

3. Syurahbil bin Hasan bertugas membantu Ikrimah.

4. Muhajir bin Umayyah, bertugas menundukan pengikur Aswad al-Insa –orang yang pertama kali mengaku Nabi di daerah Yaman— dan memadamkan pemberontakan di daerah Hadramaut yang dipimpin oleh Kais bin Maksyuh.

5. huzaifan bin Muhsin al-Galfani, bertugas mengamankan daerah Daba karena pemimpinnya mengaku sebagai Nabi.

6. Arfajah bin Harsamah, bertugas mengembalikan stabilitas daerah Oman dan Muhrah.

7. Suwaid bin Muqarrin, bertugas mengamankan daerah Tihamah yang terletak di sepanjang Laut Merah.

8. Al Alla’ bin Hadrami, bertugas memadamkan pemberontakan kaum Riddah di daerah bahrein.

9. Amr bin Ash, bertugas memadamkan pemberontakan suku Kuda’ah dan Wadi’ah.

10. Khalid bin Sa’id, bertugas memadamkan [8]pemberontakan suku-suku besar dekat perbatasan Suri’ah dan Irak.

11. Maan bin Hajiz, bertugas memadamkan pemberontakan kaum Riddah dari suku Salim dan Hawazin di daerah Thaif.

Setelah ke-11 panglima tersebut di atas mampu menstabilkan politik dalam negeri dan membungkam pemberontakan-pemberontakan yang muncul, maka Khalifah Abu Bakar memfokuskan pemerintahannya kepada ekspansi keluar, yaitu Persia dan Romawi Timur. Adapun panglima yang ditugaskan untuk ekspansi ke luar adalah:

1. Musanah bin Harisah al-Sayyaibani, bertugas menaklukan beberapa wilayah Persia.

2. Khalid bin Walid, bertugas membantu pasukan Musanah untuk menaklukan pusat kerajaan Persia dan berhasil, serta mengangkat seorang Amir di tiap daerah yang ditaklukan.

3. Abu Ubaidah bin Jarrah, bertugas menaklukan daerah Romawi, yaitu Homs Suriah utara dan Antokia.

4. Amr bin As, bertugas menaklukan wilayah Palestina.

5. Syurahbil bin Hasan, bertugas menundukan Tabuk dan Yordania.

6. Yazid bin Abu Sofyan, bertugas menaklukan Damaskus dan Suriah Selatan.

Kerena begitu gencarnya ekspansi ke luar negeri yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar sehingga menghasilkan dua perang besar, yaitu:

1. Perang Yarmuk, peperangan kaum muslimin di bawah kepemimpinan panglima Khalid bin Walid dengan pasukan romawi.

2. Perang Mauqiah Zat as-Salasil, peperangan kaum muslimin dengan tentara Persia.

Abu Bakar memerintah selama 2 tahun 3 bulan, selam itu pula beliau mampu menorehkan banyak prestasi, dari meredam keberadaan nabi palsu, mempertahankan keutuhan Negara Islam saat itu, lebih dari itu Abu Bakar juga dianggap orang yang paling berjasa dalam pengumpulan mushaf al-qur’an dalam satu kitab, bahkan lebih dari pada itu, Abu Bakar dalam sakitnya mampu membuat terobosan baru yang tidak sempat dilakukan oleh Nabi, yaitu menunjuk Khalifah sesudahnya. Hal ini disebabkan oleh kejadian di Tsaqifah Banu Sa’idah yang hamper saja meluluh lantahkan semua perjuangan Nabi. Abu Bakar kemudian memanggil Utsman dan Abdurrahman bin Auf secara bergantian, seraya bertanya tentang kemungkinan naiknya Umar memegang tampuk kekuasaan kekhalifan, selain itu Abu Bakar juga bermusyawarah dengan Sa’id bin Zaid serta Usaid bin bin Hudair, serta yang lain dari kalangan Muhajirin dan Anshar, sebahagian besar di antara mereka khawatir sikap Umar yang sangat keras akan mmecah belah ummat, sehingga mereka berinisiatif untuk memohon kemungkinan Abu Bakar menarik kembali niatnya, namun hal itu hanya membangkitkan murka Abu Bakar, hingga akhirnya Abu Bakar mengimla’kan surat wasiat sekaligus pengangkatan Umar sebagai Khalifah yang dituliskan oleh Utsman.[9]

Abu Bakar wafat dalam pada hari senin malam ke-21 Jumadil Akhir tahun 13 Hijrah (22 Agustus 634 M) dalam usia 63 tahun. Beliau wafat di sore hari setelah terbenamnya matahari dan dimakamkan pada malam itu, setelah dimandikan oleh istrinya Asma’ binti Umais, kemudian beliau dimakamkan di samping makam Nabi.[10]

III. Khalifah Umar bin Khattab.

Setelah wafatnya Abu Bakar, Umar selaku Khalifak kedua ditinggalkan banyak hal selain kesuksesan yang telah dilakukan oleh Khalifah pertama, ada beberapa pekerjaan yang sangat krusial yang sangat penting kala itu, di antaranya adalah perang yang tengah berlangsung di Irak dan Syam. Posisi kaum muslimin di Irak dan Syam saat itu memang sangat kritis, mereka sudah tidak berdaya berhadapan dengan pasukan Romawi, salah satu strategi Umar yang cukup controversial dan berani adalah, beliau memecat khalid bin walid dan menggantikannya dengan Abu ubaid, dikirim juga bersama Abu Ubaid seorang sahabat yang bernama Musanna bin Harisah.[11]

Masa pemerintahan Umar adalah masa-masa penuh dengan perang dan penaklukan, dengan kemenangan yang selalu berada di pihak muslimin. Kedaulatan mereka meluas sampai mendekati Afganistan dan Cina di sebelah timur, Anatolia dan Laut Kaspia di sebelah utara, Tunis dan sekitarnya di Afrika Utara di bagian barat dan kawasan Nubia de selatan. Sebenarnya perluasan daerah yang demikian ini di luar konsep politik Umar kala itu, karena yang menjadi ambisi politik Umar adalah menggabungkan semua ras Arab ke dalam satu kesatuan yang membentang dari Teluk Aden di selatan sampai ke ujung utara di pedalaman Samawah, namun dikala pembebasan itu selesai, peristiwa sringkali lebih kuat dari manusia, dan peristiwa-peristiwa itulah yang mendorong kaum muslimin meneruskan langkah pembebasan tersebut dan sampai sejauh daerah-daerah yang kita lihat. Adapun yang membuat kaum muslimin demikian percaya diri adalah, mereka merasa lebih kuat, dengan keaykinan bahwa maereka mengamban sebuah misi suci yang harus disampaikan kepada dunia, dan duniapun harus mendengarkannya.[12]

Ada beberapa catatan yang berkenaan dengan penaklukan daerah-daerah yang dilakukan oleh tentara muslim pada masa khalifah Umar bin Khattab, diantaranya:

1. Abu ubaid pengganti Khalid bin Walid berhasil melumpuhkan kekuatan Romawi di Suriah, Palestina, dan yerusalem dengan hasil yang gemilang, hingga kala itu Patriach Shopporius menyerahkan yerussalem kepada Umar.

2. Yazid bin Abu Sofyan telah berhasil menaklukan daerah sekitar palestina seperti Gaza, Askalon Caesara.

3. Khalid bin Walid berhasil menaklukan Mesir yang berikotakan Iskandariah.

4. Muawiyyah bin Abi Sofyan berhasil menguasai Latkia dan Sidon.

5. Sa’ad bin Abi Waqqas mampu memadamkan perlawanan pasukan Persia yang dipimpin panglima Rustam yang kemudian dikenal dengan perang Qadisiah. Selain itu Sa’ad juga berhasil menaklukan Babilon, Ctesiphon ibu kota Persia.[13]

Dari segi pemerintahan Umar sudah mulai lebih terbuka, karena prinsip-prinsip syura’ lebih dia jalankan, meskipun pada masa Nabi dan Abu Bakar ini telah berjalan, namun musyawarah hanya dilakukan dengan beberapa sahabat terutama Abbas bin Abdul Muttalib, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan yang setingkat mereka, akan tetapi pada masa Umar, beliau telah mengajak orang banyak dalam musyawarah meskipun pada akhirnya segala keputusan menjadi hak preogratif khalifah, sebagai pengemban amanah yang bertanggung jawab kepada Allah, kepada dirinya sendiri, dan kepada ummat yang telah mengangkatnya. Dari banyak kisah kita bisa lihat betapa Umar merupakan sosok yang sangat arif dalam memerintah, dalama hal persamaan hukum, kita banyak dikisahkan tentang apa yang dilakukan Umar kepada Muhammad bin Amr bin Ash yang telah mencambuk seorang rakyat jelata yang berasal dari mesir, ini merupakan ketegasannya dalam memimpin. Selain itu, pada masa Umar lah administrasi Negara mulai terbentuk, dengan diangkatnya Qadhi’ di berbagai wilayah, yang bertugas untuk menentukan keputusan hokum yang bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, begitu juga lembaga keuangan tidak luput dari perhatiannya.

Kurang lebih 10 tahun Umar memegang jabatan sebagai Khalifah, ada perbedaan pendapat tentang berapa umur Umar kala itu, tapi yang paling mungkin adalah lebih dari 60 tahun[14], pada waktu itu Umar terbunuh oleh seorang budak kafir asal Persia yang bernama Abu Lu’lu’ah disaat akan mengimami shalat subuh. Kisah terbunuhnya Umar memang mengurai kontroversi, karena sarat dengan konspirasi politik yang terjadi, dalam beberapa pendapat diungkapkan bahwa kematian Umar telah direncanakan, salah satu indikasinya adalah munculnya ramalan ka’b al-Akhbar tiga hari sebelum terbunuhnya Umar.[15] Dalam keadaan kritis, Umar memerintahkan beberapa tokoh yaitu, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqas untuk bermusyawarah berhubungan dengan pergantian Khalifah, dengan kata lain Umar mengisyaratkan agar salah satu dari mereka yang kemudian hari akan memimpin kekhalifahan Islam, dan dalam hal ini Usman lah yang kemudian terpilih untuk menkjadi Khalifah.

IV. Khalifah Usman bin Affan.

Pada pemilihan Usman menjadi Khalifah peta politik islam saat itu tertuju pada persaingan Usman dan Ali, dengan kata lain ini merupakan titik tolak kembalinya persaingan Klan Bani Hasyim dan Bani Umayyah, masing-masing Klan melakukan propaganda untuk melakukan suksesi terhadap calon yang muncul dari golongannya. Dalam musyawarah yang mirip dengan konsesus serta dimoderatori oleh Abdurrahman bin Auf, Usmanlah yang kemudian dipasrahi jabatan Khalifah dan dibai’at oleh kaum muslimin.

Berhubungan dengan pengangkatan Usman yang kala itu bersaing dengan Ali di panggung plitik setidaknya ada 2 pendapat berkenaan dengan sikap Ali, di antaranya:

1. Menerima dengan puas dan dengan kerelaan hati membai’at Usman.

2. Ali merasa kecewa dan merasa diutipu oleh Abdurrahman bin Auf seraya berkata kepadanya: “anda menipu saya dan anda mengangkatnya karena dia semenda anda, sehingga dapat berunding setiap hari”.[16]

Ekspansi pada masa Khalifah Usman lebih banyak bersifat merebut kembali wilayah yang telah ditaklukan oleh pasukan Islam sebelumnya[17], namun selain itu Usman juga melakukan ekspansi ke bebrapa daerah, diantaranya:

1. Pembebasan Azarbaizan yang dipimpin oleh Utbah bin Farqad, dari sini penaklukan juga meluas ke Bab dan Mauqan.[18]

2. Penguasaan wilayah Tripolli di Barat sampai seluruh Asia Tengah di Timur, Yaman, dan Turkistan.[19]

Namun, banyak kebijakan politik Usman yang cukup membuat para sahabat marah dan kecewa, salah satunya adalah karena pencopotan pejabat-pejabat penting pada jaman Umar dan mengganti mereka dengan kerabat Usman,[20] hal-hal inilah yang dalam catatan sejarah dianggap sebagai aib besar yang terjadi di masa kepemimpinan Usman bin Affan.

Kemarahan beberapa golongan muslimin bergolak sehubungan dengan surat perintah pembunuhan terhadap Muhammad bin Abu Bakar, sehingga selama 40 hari rumah Usman dikepung oleh kaum pemberontak yang di dalamnya terdapat Muhammad bin Abu Bakar, hingga hari itu pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H, Muhammad bin Abu Bakar merangsek masuk ke rumah Usman dan merenggut janggut Usman sementara dia sedang membaca Mushaf pada surat Al-Baqarah, di sini ada beberapa perbedaan pendapat tentang siapa yang membunuh Usman, ada yang mengatakan Muhammad bin Abu Bakar lah yang melakukannya, namun ada juga yang berpendapat bahwa dia tidak terlibat langsung, namun dia memang berada di sana kala itu.

Sungguh tragis kematian Usman bin Affan, kaum pemberontak juga tidak memperbolehkan mayat sang Khalifah untuk dikuburkan hingga selama tiga hari. Jenazan itu baru boleh dikuburkan setelah beberapa orang Quraisy meminta Ali menengahi masalah itu dengan kaum pemberontak. Yang menghadiri pemakaman pun hanyalah Marwan bin Hakam, Jubair bin Mut’im, Hakim bin Hizam, Abu Jahm bin Huzaifah al-Adawi, niyar bin Makram, dan kedua istri Usman, Na’ilah binti Farafisah dan Um al-Banin binti Uyainah.

V. Khalifah Ali bin Abi Talib.

Pasca kematian Usman, para pemberontak mengadakan pendekatan dengan Ali bin Abi Talib dengan maksud mendukungnya menjadi Khalifah, hal ini dipelopori oleh al-Gafiqi dari pemberontak mesir sebagai kelompok terbesar. Walaupun pada awalnya Ali menolak, namun karena kekosongan pemimpin serta yang paling layak saat itu adalah Ali. Pada akhirnya Ali dibai’at di masjid Nabawi pada hari Seni 21 Dzulhijjah 35 H/ 20 Juni 656 M, dan yang pertama kali membai’atnya adalah para pemuka pemberontak, dan dalam hal ini sebagian besar kalangan Bani Umayyah tidak mau membai’atnya, selain itu ada beberapa sahabat penting madinah dari Muhajirin dan Anshar, seperti Sa’ad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, Hasan bin Sabit, Abdullah bin Umar dan beberapa lainnya yang tidak bersedia untuk membai’at Ali bin Abi Talib. Sementara itu di sela-sela ramainya suara kegembiraan selesai pembai’atan memenuhi udara kota Madinah, di sudut lain sayup-sayup terdengar nada kesedihan, merinrih dan memilukan sekali. Penyair Hasan bin Sabit sedang mengakhiri pembacaan puisi eleginya atas kematian Usman bin Affan. [21]

Pada masa pemerintahannya Ali tidak melakukan ekspansi, karena Ali sangat disibukan dengan mengurus urusan dalam negeri sebagai imbas dari pembunuhan Usman, terjadi banyak pemberontakan serta perlawanan dari pengikut Usman.

Kematian Usman akhirnya terdengar oleh Aisyah istri Nabi yang sedang dalam perjalanan pulang dari Mekkah, terlihat kemarahan di wajah Aisyah, dan satu hal yang ia yakini bahwa Ali ada dibalik pembunuhan Usman. Kemarahan Aisyah menyebabkan sebuah pertempuran besar di Basrah, terlibat juga di dalamnya Zubair dan Talhah, perang ini kemudian disebut sebagai Waq’at al-Jamal (insiden/perang unta), walaupun perang ini dapat dimenangkan oleh Ali namun akibat dari perang ini sungguh memilukan, karena kaum muslimin saling bunuh dan meninggalkan lebih dari 20.000 korban.[22]

Setelah selesai peperangan dengan Aisyah, perang dingin dengan Muawiyyah bin Abu Sofyan sang gubernur Syam semakin meruncing, terlebih Muawiyyah tetap tidak mau mengakui dan membai’at kekhalifahan Ali. Puncaknya adalah ketika Muawiyyah mengangkat dirinya menjadi Khalifah dan mengklaim dirinya sebagai pengganti Usman yang terbunuh. Dengan terus menghembuskan isu penuntutan tebusan darah Usman, perang pun tak bisa dihindarkan, sehingga siffin sebuah tempat yang tak jauh dari sebelah barat pantai sungai Furat menjadi saksi sejarah pertempuran Ali dengan Muawiyyah pada 37 H/ 657 M. Ketika pasukan Muawiyyah mampu dipukul mundur mereka melakukan rekayasa politik dengan mengangkat mushaf dan terjadilah tahkim.

Peristiwa tahkim menyisakan perpecahan dalam tubuh Islam, karena Islam kemudian terpecah menjadi dua wilayah dan kekhalifahan: Imam Ali di timur –semenanjung Arab, Irak dan Persia— , sedangkan Muawiyyah di bagian barat –meliputi Syam (Suria) dan Mesir, inilah awal perpecahan ummat Islam yang berakibat jauh dalam sejarah.[23]

Dalam hal ini pengikut Imam Ali terpecah menjadi dua golongan, yaitu:

1. golongan yang telah jemu berperang, segala bencana dan pembunuhan yang selama ini menimpa mereka telah menimbulkan kebencian kepada Muawiyyah dan orang Syam. Mereka terus berdebat mengenai hak mereka dari segi agama dan Syari’ah. Kebanyakan dari mereka adalah penduduk kota yang kemudian menjadi penganut paham Syi’ah.

2. Satu golongan lagi, mereka masih memikul dendam dan tak dapat menerima manipulasi Amr kepada Abu Musa sebagai alas an membenarkan Imam Ali atas segala yang terjadi. Mereka berbicara kepada Imam Ali dengan begitu berani, kasar dan keras kepala, mereka adalah penduduk pedalaman, merekalah yang kemudian keluar dari pasukan Imam Ali, dan mendapatkan sebuta Al-Khawarij.

Pada tahun 40 H, orang-orang Khawarij akan melaksanakan pembunuhan terhadap 3 orang, yaitu Ali bin Abi talib, Umayyah bin Abi Sofyan, serta Amr bin Ash, ketiganya akan dibunuh pada saat sholat Subuh pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.[24] Namun, pembunuhan Muawiyyah dan Amr bin Ash tidak berhasil dilakukan, sementara Abdurrahman bin Muljam –pembunuh Ali— telah berada di Kuffah, hingga waktu Subuh datang ia berhasil menikam Imam Ali dan kemudian meninggal 2 hari setelah tragedy tersebut.


BAB III

PENUTUP

I. Kesimpulan

Pergolakan politik pasca wafatnya Nabi memang sangat dramatis, munculnya kekhalifan pertama yang dipegang oleh sahabat Abu Bakar, dilanjutkan oleh Umar, Usman, dan Ali ternyata harus berakhir dalam sebuah system kerajaan yang di bangun oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan, karena konsep khilafah yang sah adalah bukan perorangan, keluarga, atau kelas tertentu, tapi komunitas secara keseluruhan yang meletakan dasar hukum kepada kitabullah.[25]

Dari kisah ini bisa kita lihat betapa dominasi kesukuan masih sangat mendarah daging pada masa sahabat dan tabi’in, bahkan sesudahnya dan mungkin inilah yang menjadi sandaran bagi para oeriantalis yang mengatakan bahwa al-islamu yantasyiru bi ad-dammi wa as-sayfi (islam itu tersebar dengan pedang dan darah), sehingga sebagai seorang muslim kita juga harus mampu membedakan antara Islam sebagai agama suci, serta islam sebagai sebuah tatanan social, yang mempunyai hubungan langsung dengan kepentingan, baik politik, ekonomi, dan lain sebagainya.


[1] Marzuki Haji Mahmood, Isu-isu Kontroversi dalam Sejarah Pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, (http://www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=63&mode=thread&orde). Hlm. 8.

[2] Marshall G. S. Hodgson, The Venture Of Islam; Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, diterjemahkan Oleh Mulyadhi Kartanegara, (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 287.

[3] Marzuki Haji Mahmood, Isu-isu Kontroversi dalam Sejarah Pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, hlm, 11.

[4] Muhammas Husein Haekal, Abu Bakar As-Siddiq sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi, diterjemahkan oleh Ali Audah, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2008), hlm, 37.

[5] Ibid, hlm, 44.

[6] Ibid, hlm, 47.

[8] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hlm, 17.

[9] Muhammas Husein Haekal, Abu Bakar As-Siddiq sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi, diterjemahkan oleh Ali Audah, hlm, 365-368.

[10] Ibid, hlm, 374.

[11] Muhammas Husein Haekal, Umar bin Khattab Sebuah telaah Mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa itu, diterjemahkan oleh Ali Audah, (Jakarta: PT. Litera AntarNusa, 2008), hlm, 113.

[12] Ibid, hlm, 635-636.

[13] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam/, hlm, 37.

[14] Ibid, hlm, 771.

[15] Isbid, hlm, 779.

[16] Muhammas Husein Haekal, Usman bin Affan Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, diterjemahkan oleh Ali Audah, (Jakarta: PT. Litera AntarNusa, 2008), hlm, 30.

[17] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam,hlm, 37.

[18] Muhammas Husein Haekal, Usman bin Affan Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, hlm, 58.

[19] Istianah Abu Bakar, Sejarah peradaban Islam,hlm, 38.

[20] Marzuki Haji Mahmood, Isu-isu Kontroversi dalam Sejarah Pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, hlm, 79.

[21] Ali Audah, Ali bin Abi Talib Sampai kepada Hasan dan Husain, (Jakarta: PT. Litera AntarNusa, 2008), hlm, 187-190.

[22] Ibid, hlm, 123-242.

[23] Ibid, hlm, 267.

[24] Ibid, hlm, 338.

[25] Abul A’la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, diterjemahkan oleh Muhammad al-Baqir, (Bandung: Karisma, 2007), hlm,61.

* Makalah ini telah dipresentasikan oleh khaerul azmi di kelas pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tadwin al-Hadis dan Penyebarannya

Desember 11, 2008 at 12:11 pm (Ilmu-Ilmu ke-Islam-an)

I. PENDAHULUAN

Sebelum kita membahas tadwin al-hadist atau yang dikenal sebagai masa kodifikasi hadist, ada baiknya kita kaji pertumbuhan hadist pada masa tabi’in, karena sedikit banyak ada beberapa alasan dan rasionalisasi urgensi kodifikasi hadist.

Pada masa tabi’in al-qur’an telah dikumpulkan dalam satu mushaf dan para sahabat telah tersebar ke beberapa wilayah kekuasaan islam, sehingga para tabi’in dapat mempelajarei hadist dari mereka. Ketika pemerintahan dipegang oleh Bani Umayah, wilayah kawasan islam telah meliputi Mesir, Persia, Iraq, Afrika Selatan, Samarkand, dan spanyol, di samping Madinah, Mekah, Basrah, Syam, dan Khurasan. Pesatnya perluasan wilayah kekuasaan islam, dan meningkatnya penyebaran para sahabat ke daerah-daerah tersebut menjadikan masa ini dikenal sebagai masa penyebaran periwayatan hadist (Intisyar ar-Riwayah Ila al-Amshar).[1]

Perluasan wilayah islam mendatangkan sebuah tanggungjawab besar untuk menjaga kesatuan dan membendung kepentingan kelompok, namun pergolakan politik memang tidak bisa dihindarkan.sebenarnya sejak masa sahabat telah terjadi pergolakan politik yang nyata, ditandai dengan terjadinya perang Jamal dan perang Shiffin, yaitu ketika kekuasaan dipegang oleh Ali Bin Abi Thalib. Namun, akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut dengan terpecahnya umat islam kedalam beberapa kelompok (Khawarij, Syi’ah, Muawwiyah dan golongan mayoritas yang tidak masuk kedalam salah satu kelompok tersebut).[2]

Sejak terbunuhnya khalifah Usman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Thalib serta Muawiyah yang masing-masing ingin memegang jabatan khalifah, maka umat Islam terpecah menjadi tiga golongan, yaitu syiah. khawarij, dan jumhur. Masing-masing kelompok mengaku berada dalam pihak yang benar dan menuduh pihak lainnya salah. Untuk membela pendirian masing-masing, maka mereka membuat hadis-hadis palsu. Mulai saat itulah timbulnya riwayat-riwayat hadis palsu. Orang-orang yang mula-mula membuat hadis palsu adalah dari golongan Syiah kemudian golongan khawarij dan jumhur, Tempat mula berkembangnya hadis palsu adalah daerah Irak tempat kamu syiah berpusat pada waktu itu.[3] Namun, pemahaman sejarah ini tentunya harus kita kaji ulang lewat beberapa susut pandang yang berbeda, karena ini akan berhubungan langsung dengan siapa yang berkuasa di saat hadis dikodifikasikan.

Langsung ataupun tidak, dari pergolakan politik tersebut membawa pengaruh besar terhadap perkembangan hadis berikutnya, setidaknya ada dua pengaruh secara langsung yang berhubungan dengan perkembangan hadis, yang pertama dan negatif adalah munculnya banyak hadis palsu untuk medukung kepentingan politik kelompok tertentu dan menjatuhkan lawan politiknya. Pengaruh yang bersifat positif ialah adanya rencana untuk mengkodifikasi hadis atau dikenal dengan tadwin al-hadist sebagai bentuk penyelamatan terhadap pemusnahan dan kehadiran hadis, akibat konsukensi logis dari pergolakan politik tersebut.

II. PENGHIMPUNAN HADIS

Secara bahasa, tadwin diterjemahkan dengan kumpulan shahifah (mujtama’ al-Shuhuf). Secara luas tadwin diartikan dengan al-Jumu’ (mengumpulkan). Al-Zahrani merumuskan pengertian tadwin sebagai berikut:

Artinya:

“ mengikat yang berserak-serak kemudian mengumpulkannya menjadi satu diwan atau kitab yang terdiri dari lembaran-lembaran”.[4]

Pada masa Khalifah Umar Bin Khattab, beliau pernah mencetuskan ide untuk mengkodifikasi hadis, namun ide tersebut urung dilaksanakan karena beliau khawatir itu akan mengganggu para sahabat dalam mempelajari al-Qur’an atau bahkan terjadi pencampur-adukan di dalamnya. Pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang dinobatkan pada akhir abad pertama hijriyah. Selain alasan di atas beliau juga khawatir dengan banyaknya para pe-rawi hadis yang semakin sedikit jumlahnya karena meninggal dunia. Sehingga pada tahun 100 Hijrah Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadis-hadis Nabi yang terdapat pada para penghapal.[5] Sebagaimana tertuang dalam suratnya:

Artinya:

“Perhatikan atau periksalah hadis-hadis Rosulullah S.A.W. kemudian tuliskanlah! Aku khawatir akan lenyapnyailmu dengan meninggalnya para ulama (para ahlinya). Dan jangalah kamu terima kecuali hadist Rosulullah”.[6]

Khalifah mengintruksikan kepada Abu Bakar bin Hazm agar mengumpulkan hadis-hadis yang ada pada Amrah binti Abdurrahman al-Anshari (murid kepercayaan Sitti Aisyah) dan Al-Qashim bin Muhammad bin Abi Bakar. Intruksi yang sama juga ia berikan kepada Muhammad bin Syihab Az-Zuhri yang dinilainya sebagai orang yang lebih banyak mengetahui hadis dari pada yang lain.[7]

Ulama yang pertama kali berhasil menghimpun hadis dalam satu kitab sebelum khalifah meninggal adalah Muhammad bin Muslim bin Syihab bin Zuhri al-Madani (w. 124 H) ia seorang ulama besar di Syam dan Hijaz. Sepeninggalan Khalifah Umar bin Abdul Aziz kegiaan penghimpunan hadis berjalan terus. Pada thabaqot setelah thabaqot az-Zuhri dan Abu Bakar bin Hazm, bermunculan banyak penghimpun hadis terkemuka. Dan dalam hal ini para ulama berbeda pendapat mengenai karya siapa yang terdahulu muncul. Ada yang berpndapat, bahwa ulama yang pertama kali menghimpun hadis pada thabaqot ini adalah Ibnu Juraij (w.150 H). Ada juga yang mengatakan, bahwa orang yang terdahulu menghimpun hadis dalam sebuah kitab adalah Malik bin Anas (w. 179 H), namun ada juga yang berpendapat orang tersebut bukan lah keduanya, melainkan al-Rabi’ bin Subaih.[8]

Pada thabaqat ini, yaitu pada abad kedua hijrah, pengumpulan hadis nabi masih bercampur dengan qaul sahabat dan fatwa-fatwa at-Tabi’in, Artinya karya-karya mereka tidak hanya menghimpun hadis Nabi, tetapi juga menghimpun fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in.[9] Meskipun pada masa ini tergolong banyak penghimpun hadis yang terkenal, namun sangat disayangkan karya besar mereka yang sampai kepada kita sangatlah terbatas, diantaranya asalah al-Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas.

III. PENYELEKSIAN DAN PENYEMPURNAAN PENGHIMPUNAN HADIS

Telah dikatakan sebelumnya bahwa penghimpunan hadis pada thabaqot pertama masih tercampur didalamnya dengan fatwa para sahabat dan thabi’in, sehingga dilakukan penyaringan dan seleksi hadis pada saat dinasti Abassiyah berkuasa, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah al-Makmun sampai dengan al-Muktadir, yaitu pada abad ke-II hijrah (sekitar tahun 201-300 H)[10]

Pada masa ini para penghimpun hadis benar-benar mencoba memisahkan klasifikasi hadis-hadis yang maqbul dari yang mardud dengan menggunakan metode isnad dan sanad. Metode isnad dan sanad ialah metode yang digunakan untuk menguji sumber-sumber pembawa berita hadis (perawi) dengan mengetahui keadaan para perawi, riwayat hidupnya, kapan dan dimana ia hidup, kawan semasa, bagaimana daya tangkap dan ingatannya dan sebagainya. Ilmu tersebut dibahas dalam ilmu yangdinamakan ilmu hadis dirayah, yang kemudian terkenal dengan ilmu musthalahul hadis.[11]

Orang yang pertama kali menyusun kitab musnad adalah Abu Dawud bin al-Jarud at-Thayalisi (133-204 H). Kemudian disusul oleh ulama semasanya dari kalangan atba’ al-thabi’in dan generasi sesudahnya, antara lain: (1). Asad bin Musa al-Umawi (w. 212 H), ia ulama pertama yang menyusun kitab musnad di Mesir, (2). ‘Ubaidillah bin Musa al-‘Abasi (w. 213 H), (3). Musaddad al-Basri (w. 228 H), (4). YAhya bin ‘Abd al-Hamid al-Hamani al-Kuffi (w. 228 H), menurut Ibn Adi, beliau lah yang pertama kali menyusun kiab musad di Kuffah, (5). Nu’aim bin Hammad al-Khaza’I al-Misri (w. 228 H), (6). Ahmad bin Hambal (164-241 H), al-musnad Ahmad bin Hambal ini oleh ulama dipandang sebagai al-musnad yang paling lengkap dan komprehensif, (7). Ishaq bin Rahawiyah (161-238 H), (8). ‘Utsman bin Abu Syaibah (156-239 H), Ya’qub bin Abi Syaibah (w. 363 H), dan lain sebagainya. Karena al-musnad merupakan karya yang menghimpun hadis Rasul yang disusun berdasarkan nama sahabat periwayat hadis, maka masing-masing penyusun menggunakan beragam cara di dalam menyusun nama-nama sahabat. Kalangan mereka ada yang menyusun nama sahabat berdasarkan urutan masa masuk islam, dan ada pula yang menyusun nama sahabat berdasarkan huruf mu’jam (alphabet).[12]

Selain itu, pada pertengahan abad ke-2 H telah muncul juga karya-karya himpunan hadis yang babnya tersusun-susun seperi bab-bab dalam ilmu fiqh. Penyusun karya macam ini ada yang membatasi karyanya hanya menuturkan hadis-hadis shahih, dan ada juga penyusun yang selain menghimpun hadis shahih, juga menghimpun hadis-hadis yang kualitasnya di bawah hadis shahih.

Adapun penyusun yang membatasi hadis-hadis yang dihimpunnya berkualitas shahih adalah seorang ulama terkemuka Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhori (194-252 H) dengan kitabnya al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-muktashar bil umur al-Rasulallah wa Sunanihi wa Ayyamihi dan lebih dikenal dengan sebutan al-Jami’ al-Shahih. Sedangkan kitab hasil karya Muslim bin Al-Hajjaj al-Qusyairi (204-261 H) berjudul al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunan bi Naql al-Adl ‘an Adl Rasul Allah S.A.W dan dikenal dengan sebutan al-Jami’ al-Shahih.[13]

Berkat keuletan dan kerja keras para ulama hadis pada masa ini, maka bermunculanlah kitab-kitab hadis yang hanya memuat hadis-hadis shahih. Kitab-kitab tersebut pada perkembangannya dikenal dengan sebutan kutub as-sittah (kitab induk yang enam). Kutub al-Sittah merupakan sebutan untuk beberapa karya ulama besar hadis pada masa penyempurnaan kodifikasi hadis, yaitu oleh Imam Bukhori (194-525 H), Imam Muslim ( 204-261 H), Abu daud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishak as-Sijistani (202-275 H), Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah At-Tirmidzi (200-279 H), Abu Abdul ar-Rahman bin Suaid Ibn Bahr An-Nasa’I (215-302 H), dan Abu Abdillah Ibnu Yazid Ibnu Majah (207-273 H), adapun karya keempat ahli hadis terakhir disebut sebagai kitab As-Sunan. Menurut para ulama, kualitas As-Sunan berada dibawah kitab As-Shahih karya Bukhari dan Muslim.

Secara lengkat kitab-kitab yang enam diurutkan sebagi berikut:

1. Al-Jami’ As-Shahih susunan Al-Bukhari

2. Al-Jami’ As-Shahih susunan Muslim

3. As-Sunan susunan Abu Daud

4. As-Sunan susunan Tirmidzi

5. As-Sunan susunan Nasa’i

6. As-Sunan susunan Ibnu Majah[14]

Dengan demikian, pada masa ini lah kodifikasi secara sistematis, kritis dan yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian dalam menyeleksi benar-benar terselesaikan. Setelah ini tidak ada lagi karya-karya ahli hadis yang memiliki kualitas atau menyamai kualitas al-Kutub al-Sittah tersebut. Masa-masa kelengkapan pada masa abad ke-3 Hijrah ini disebut masa al-Dzahabi,[15] pada masa ini para poembesar imam hadis telah bermunculan dan al-Kutub al-Sittah telah selesai disusun.

IV. MASA PENGEMBANGAN DAN PENYEMPURNAAN SISTEM PENYUSUNAN KITAB-KITAB HADIS

Setelah masa-masa penyeleksian dan penyempurnaan penghimpunan hadis, terlebih setelah munculnya al-Kutub al-Sittah dan al-Muwattha’ Malik serta Musnad Ahmad bin Hambal, para ulama hadis mulai mengalihkan perhatiannya untuk menyusun kitab-kitab jawami’, kitab Syarah muhtasyar, men-takhrij, menyusun kitab Athraf dan jawa’id serta melakukan penyusunan kitab hadis untuk topik-topik tertentu.

Diantara ulama yang masih melakukan penyusunan kitab hadis yang memuat hadis-hadis shahih ialah Ibnu Hibban Al-Bisti (w. 354 H), Ibnu Huzaimah (w. 311 H), dan Al-Hakim Al-Naisaburi[16] (321-405 H)[17]. Namun, pada masa ini penyusunan kitab mengarah kepada usaha mengembangkan dengan beberapa variasi pentadwinan terhadap kitab-kitab yang sudah ada, diantaranya dengan mengumpulkan isi kitab shahih Bukhari dan Muslim, sebagaimana yang dilakukan oleh Muhammad Ibnu Abdillah Al-Jauzaqi dan Ibnu Al-Furrat. Mereka juga mengumpulkan isi kitab yang sama, seperti yang dilakukan oleh Abdul Al-Haq Ibnu Abdul Ar-Rahman As-Syabili (lebih dikenal dengan Ibnu Al-Kharrat), Al-Fairu Az-Zabadi, dan Ibnu Al-Asir Al-Jazari. Ada juga yang mengumpulkan kitab-kitab hadis mengenai hokum, seperti yang dilakukan oleh Ad-Daruqutni, Al-Baihaqi, Ibnu Daqiq Al-Ied, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.[18]

Masa perkembangan hadis yang terkhir ini berlangsung cukup lama, yaitu mulai abad keempat hijriyah dan berlangsung terus sampai beberapa abad sesudahnya hingga abad kontemporer.[19] Dengan demikian masa perkembangan penyempurnaan hadis melewati dua fase sejarah perkembangan islam, yaitu fase pertengahan dan fase modern hingga sekarang.

Gerakan tadwin di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama; tapi di sisi lain menyebabkan ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. Mereka tidak merasa perlu untuk melakukan penelitian ulang. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah dan matan. Maksudnya untuk memudahkan pemabaca memahami kitab-kitab rujukan. Mereka menjelaskan kata-kata ataupun kalimat-kalimat secara sematik, atau menambahkan penjelasan dengan mengutip kata-kata ulama lain. Tidak jarang syarah suatu kitab di-syarahi dan di-syarahi lagi. Untuk shahih Al-Bukhari saja (sepanjang yang diketeahui) ada tiga kitab syarah,yaitu: Fath al-Barry, Irsyad al-Syari, Umdat al-Qarry, ada pula beberapa kitab yang men-syarah al-Muwattha’ karya Imam Malik.[20]

V. KESIMPULAN

Kodifikasi hadis tentunya tidak terlepas dari pengaruh gejolak perpolitikan Negara Islam yang mulai melebarkan sayapnya kebeberapa daerah lain, serta tidak pula luput dari inisitif pemerintahan Umar bin Abdul Aziz khalifah berkuasa kala itu yang mengambil tindakan preventif untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dan pemalsuan hadis, meskipun harus dicatat bahwa sangat mungkin hadis juga diintervensi oleh penguasa saat itu untuk melegitimasikan kekuasaannya dan membenarkan tindakannya, mengingat inisiatif kodifikasi muncul setelah adanya perpecahan dalam islam baik oleh permasalah politis maupun ideologis.

Pada masa penghimpunan perdana, para asli hadis belum melakukan banyak seleksi terhadap ke-shahih-an hadis, namun hanya membukukan hadis yang terkumpul dari beberapa ulama yang (dianggap) dipercaya saat itu memiliki bank hadis yang cukup memadai.

Pasca kodifikasi hadis yang dilakukan oleh Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri al-Madani dan Abu Bakar bin Hazm, penyeleksian hadis dengan metode sanad dan isnad terus dilakukan secara intensif untuk memisahkan yang shahih, dhaif, atau bahkan matrud. Kerja keras para ulama masa ini menghasilkan dua kitab shahih dan empat kitab sunan, yang keenamnya kemudian kita kenal dengan al-kutub al-sittah.

Masa setelah terkodifikasinya al-kutub al-sittah, pengkodifikasian hadis hanya berupa penyempurnaan system penyusunan kitab-kitab hadis. Para ulama mengalihkan perhatiannya pada takhrij al-hadis, menyusun kitab hadis pertopik/tema, dan lain sebagainya. Masa ini terbentang dalam waktu yang sangat panjang yaitu mulai dari abad keempat hijriyah dan berlangsung hingga sekarang. Artinya, masa ini telah melewati dua fase sejarah perkembangan islam, yaitu fase pertengan dan fase modern.

[1] Mudasir, Ilmu Hadis (Bandung:Pustaka Setia, 2007), 101.

[2] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis (Semarang: RaSAIL Media Group, 2007), 89.

[3] Arsip Pustaka Islam, “Ulumul Hadis”, dalam http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/4/1/pustaka-93.html (19 September 2008).

[4] Munzier Suparta, Ilmu Hadis (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), 88.

[5] Muhammad Ahmad-M. Mudzakir, Ulumul Hadis (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 33.

[6] [6] Mudasir, Ilmu Hadis, 105.

[7] Ibid., 106.

[8] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis, 92.

[9] Ibid., 92.

[10] Mudasir, Ilmu Hadis, 109.

[11] Muhammad Ahmad-M. Mudzakir, Ulumul Hadis, 34.

[12] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis, 93.

[13] Ibid., 94.

[14] Mudasir, Ilmu Hadis, 110.

[15] Mohammad Nur Ichwan, Studi Ilmu Hadis, 95.

[16] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, 93.

[17] Muhammad Ahmad-M. Mudzakir, Ulumul Hadis, 41.

[18] Mudasir, Ilmu Hadis, 111.

[19] Ibid., 111.

[20] Jalaluddin Rahmat, “Tinjauan Kritis atas Sejarah Fiqh; dari Khulafa’urrasyidin hingga Madshab Liberalisme”, dalam http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/SejarahFiqh05.html, (19 September 2008).

* makalah ini telah dipresentasikan oleh khaerul azmi di kelas pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Dasar-Dasar Ilmu Pengatahuan (Filsafat Ilmu)

Desember 11, 2008 at 12:00 pm (Filsafat)

I. PENDAHULUAN

A. Filsafat Ilmu

Kalimat filsafat tentunya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita, terlebih dalam forum-forum sebelumnya kita sudah disuguhi tema-tema pengertian filsafat khususnya filsafat ilmu, namun sebelum memasuki pembahasan dasar-dasar filsafat ilmu, ada baiknya kita ulas kembali tentang apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu.

Dari padanan katanya filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang objek materinya berupa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis, bentuk dan sifatnya. Adapun objek formanya merupakan hakikat atau dasar ilmu pengetahuan.[1] Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu[2]. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru.

Untuk melakukan eksplorasi ke-ilmu-an tersebut filsafat ilmu mempunyai hakekat/ dasar ilmu pengetahuan, yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

II. PEMBAHASAN

A. Hakekat/ Dasar Ilmu Pengetahuan

Hakekat adalah keseluruhan unsur yang secara mutlak bersama-sama menentukan adanya sesuatu barang atau hal sebagaimana diri pribadinya sendiri, dan unsur-unsur tersebut bisa saja tergolong ke dalam satu jenis yang plural dan berbeda-beda. Pada dasarnya, ‘hakekat’ dapat dikategorikan menjadi 3 hal, yaitu hakikat jenis (bersifat abstrak), hakikat pribadi (bersifat potensial), dan hakikat individual (bersifat kongkret).[3]

Karena bersifat abstrak, maka hakikatr jenis ilmu pengetahuan masuk dalam pembahasana aspek ontologi; kerena sifat potensialnya, maka hakikat pribadi ilmu pengetahuan masuk dalam aspek epistemologi; dan karena konkret hakikat individual ilmu pengetahuan di bahas dalam aspek aksiologi, ini merupakan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.[4]

1. Ontologi; Hakikat Jenis Ilmu Pengetahuan

Ontologi, dalam bahasa inggris ontology, berasal dari bahasa yunani on yang berarti ada dan ontos yang berarti keberadaan, sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontologi adalah pemeikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Selanjutnya, menurut A.R. Lacey, ontology juga diartika sebagai “a central part of metaphysic” (bagian central dari metafisika).[5]

Istilah ontologi pertama kali muncul pada abad ke-17, kemudian oleh Ch. Wolf di sebut ”metafisika generalis”. Namun, oleh kan ontologi diganti dengan filsafat trasendental. Sesudah kant, istilah ontologi sempat lenyap dari filsafat modern, akan tetapi dihidupkan kembali oleh Neo-scholastik dan E. Husserl serta N. Hartmann. M. Heidegger merencanakan suatu ontologi yang serba baru, yang lebih radikal dari pada ontologi klasik.[6]

Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentru. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus: menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.[7]

Bebrapa karakteristik ontologi dapat kita sederhanakan menjadi sebagai berikut:

a. Ontologi adalah studi tentang arti ”ada” dan ”berada”, tentang ciri-ciri essensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak.

b. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebagainya.

c. Cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.[8]

d. Ontologi adalah filsafat wujud (Hasan Huwaidi)

e. Ontologi membicarakan mengenai hakekat terdalam dari segala sesuatu (S. Suriasumantri)

f. Ontologi membicarakan tentang hakekat kenyataan dan hakekat yang ada (Louis O. Kattsoft)

g. Ontologi berbicara mengenai yang ada tanpa menunjuk barang atau benda yang kongkrit, sama dengan membicarakan yang tiada (descartes)[9]

Ontologi dapat juga kita pahami sebagai pohon filsafat atau filsafat itu sendiri. Sebagai pihin filsafat, intologi ataupun metafisika umum selalu mempersoalkan dibalik segala sesuatu yang ada,[10] hakikat abstrak atau jenis menentukan kesatuan (kesamaan) dari berbagai macam jenis, bentuk dan sifat hal-hal atau barang-barang yang berbeda-beda dan terpisah-pisah.[11] Perbedaan dari orang-orang bernama azmi, khaerul, elfaridzie, dendaren dan lain sebagainya bertemu dan terikat dalam satu kesamaan manusia, sedangkan manusia, tumbuhan, hewan tersatukan dalam persamaan jenis sebagai makhluk. Jadi hakikat jenis adalah titik sifat abstrak tertinggi, dan studi tentang segala sesuatu yang abstrak ini masuk dalam cakupan kajian intologi (metafisika umum).

sesuai dengan penuturan di atas jika dikontekstualkan dengan ontologi dalam filsafat ilmu, maka ontologi bertugas menjawab pertanyaan tentang hakikat ilmu itu sendiri bahkan sampai dengan hakikat Tuhan sebagai pemilik ilmu, baik secara terpisah maupun secara terkait didalam satu kesatuan.

2. Epistemologi; Hakikat Pribadi Ilmu Pengetahuan

Epistemologi berasal dari bahasa yunani yaitu episteme, yang berarti ilmu. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang meneliti pengetahuan manusia, kepercayaan, serta tabi’at dan dasar pengalaman.[12] Jadi epistemologi adalah pengatahuan mengenai ilmu pengetahuan. Maka jika ontologi berupaya mencari secara reflektif tantang yang ada, sedangkan epistemologi membahas tentang terjadinya dan kesahihan atau kebenaran ilmu.

Permasalahana sentral epistemologi adalah mengenap persoalan apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya, ”what can we know, and how do we know it” (lacey: 1967). Selanjutnya Lacey juga menegaskan bahwa persoalan pokok dalam epistemologi adalah ”belief, understanding, reason, judgment, sensation, imagination, supposing, guesting, learning, and forgetting”.[13]

Sejak tahun 1960 epistemologi berkembang sangat pesat. Edmund Gettier memulai polemiknya dengan mempertanyakan apakah pembenaran (justifikasi) terhadap yang diyakini itu cukup untuk disebut sebagai ilmu?[14]

a. Teori Pembenaran Tradisional

Pada tahun 1970-an para ahli memfokuskan pada pembenaran epistemik. Pada tahun yang sama para epistemolog menela’ah dan merumuskan kembali dua teori pembenaran tradisional, yaitu: koherentisisme dan foundationalisme. Terjadinya perbedaan mengenai teori pengetahuan dalam epistemologi disebabkan oleh setiap ilmu pengetahuan memiliki potensi objek, metode, sistem dan tingkat kebenaran yang berbeda. Segala macam perbedaan tersebut berkembang dari perbedaan tajam tentang sudut pandang dan metode yang bersumber dari rasionalisme dan empirisme. Empirisme identik dengan teori korespondensi tentang kebenaran, sedangkan rasionalisme identik dengan teori koherensi. Dengan kata lain epistemologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang mempersoalkan tentang hakikat kebenara, karena semua pengetahuan mempersoalkan kebenaran.[15]

Para penganut foundationalisme klasik berpendapat bahwa semua pengetahuan dan pembenaran yang diyakini itu sepenuhnya berlandaskan pada pengetahuan dan pembenaran noninferesial. Maksusnya adalah, pembenaran hari ini turun hujan, dimaksudkan hanya membenarkan turun hujan; tetapi tidak ada maksud mengamalkan bahwa hari lain dengan kondisi yang sama akan juga turun hujan.

Berbeda dengan konherentisisme yang memandang bahwa yang diyakini itu tidak akan terlepas dari lingkaran dari semua yang diyakini. Yang diyakininya: tampil kaya akan dihormati, maka jajan di warung tegal, tidak akan mau. Dikenal orang miskin juga tidak mau, karena malu dianggap miskin juga.[16]

b. Indra dan Akal sebagai Uji Kebenaran

Melalui pengindraan dan kemampuan akal pikiran, akan terbentuk kepribadian ilmu ke dalam dua karakter, yaitu empirik dan rasional, dalam struktur metodologis yang dialektis verifikatif. Artinya keduanya bisa saling mengukur kebenaram tersebut, misalnya hasil kerja pengindraan atau empirik dapat diuji dengan cara kerja pikiran rasional, begitu pula sebaliknya. Struktur metodologis demikian diharapkan mampu menghadirkan kualitas kebenaran yang dapat dipercaya.

Dengan kepribadian empirik, ilmu pengetahuan memiliki komitmen terhadap perubahan dan kemajuan, dan dengan kepribadian rasional berari ilmu pengetahuan mempunyai daya pengukuran terhadap perubahan dan kemajuan tersebut. Dengan kepribadian monodualistik ini, berarti ilmu pengetahuan tidak melepaskan diri dari landasan ontologi, dan dengan demikian sekaligus memberikan landasan terhadap aspek etika. Kemudian, persoalan tentang hakikat pribadi monodualistikilmu pengetahuan, tercermin dalam tiga teori kebenaran epistimologis, yaitu teori koheren, teori koresponden, dan teori pragmatik.[17]

c. Teori Kebenaran Epistimologi

Pertama, teori konheren. Teori ini dibangun atas dasar hakikat pribadi ilmu pengetahuan. Karena bersifat rasional, maka kebenaran ilmiah teoritis dipandang dalam ruang lingkupbertaraf abstrak ideal. Ukuran kebenaran ditentukan dengan tingkat rasional.

Kedua, teori koresponden. Teori ini dibangun berdasarkan hakikat empirik ilmu pengetahuan. Karena itu kebenaran ilmiah teoritis dipandang dalam ruang lingkup kongkret realistik. Jadi segala kebenaran harus mampu dibuktikan secara nyata.

Ketiga, teori pragmatik. Teori ini dibangun berdasarkan hakikat rasional dan empirik ilmu pengetahuan. Kebenaran ilmiah teoritis dipandang dalam lingkup dialektis rasional dan empirik. Akibatnya ukuran kebenaran dalam teori ini berstandar dua dengan menekankan pada ’nilai kegunaan’. Suparlan mengatakan, epistemologi juga harus menggunakan metode analisis dan sintesis yang masing-masing dilengkapi dengan peralatan induktif dan deduktif.[18] Pada perjalanannya terbukti bahwa hasil pengenalan tersebut secara klasik akan disajikan dalam pemikiran kuantitatif dan kualitatif. Dalam tampilan kuantitatif akan muncul monisme atau pluralisme atau paralelisme antara yang sensual, logik, ethik, dan yang trasenden. Sedangkan dalam tampilan kualitatif akan muncul materealisme, idealisme, naturalisme.[19]

3. Aksiologi; Hakikat Individual Ilmu Pengetahuan

Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai dan logos berarti teori/ilmu. Jadi aksiologi adalah teori/ilmu tentang nilai. Menurut Suriasumantri (1987 : 234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.[20]

Max Scheler seorang phenomenologyst, sebagai seorang katolik ia memasukan teologinya dalam pandangan-pandangannya terhadap ontologi. Dalam epistemologi ia memasukan unsur interpretasi dalam phenomenon; pengetahuan baginya bukan sekedar pengenalan pada sesuatu yang sensual. Dalam aksiologinya, scheler menampilkan konsep-konsep ethiknya tentang werthfuehlen (pengalaman nilai), serta bedanya gueter (yang baik) dengan werte (yang mempunyai value). Tentang value ia membaginya dlam empat jenis; pertama value sensual, dalam tampilan seperti menyenangkan dan tidak menyenangkan; kedua nilai hidup, seperti edel (agung) atau gemein (bersahaja); ketiga, nilai kejiwaan, seperti: nilai aestetis, nilai benar-salah, dan nilai intrisik ilmu; dan yang keempat, nilai religius, seperti yang suci dan yang sakral.[21]

Adapun Menurut Bramel, aksiologi terbagi tiga bagian, yaitu:

a. Moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yaitu etika.

b. Estetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan.

c. Sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosial politik.

Di atas kita telah singgung sedikit tantang etika, karena aksiologi sangat adalah ilmu yang berhubungan dengan nilai (value), maka ada baiknya kita ulas sedikit apa itu etika.

Etika berasal dari kata ethos yang berarti susila, adat-istiadat, atau juga disebut sebagai filsafat moral.[22] Tradisi filsafat membagi etika ke dalam etika normatif dan mataetika (etika kreatif). Yang pertama, mempersoalkan pengukuran perbuatan baik dan benar berdasarkan norma-norma konvensional sebagai petunjuk atau penuntun perilaku. Sedangkan yang kedua, cenderung bersifat filosofis, pengukuran perbuatan baik dan benar berdasar pada analisis kritis logis.[23] Kedua krateria inilah yang kemudian menjadi pedoman dan pegangan ’bagaimana seharusnya seseorang berperilaku’. Karena adanya dikotomi etika normatif dan kreatif oleh filsafat, maka etika mempersoalkan tingkah laku dalam standar ganda, yaitu tingkah laku yang berdasarkan normatif (adat-istiadat ataupun agama) serta tingkah laku yang berdasarkan tujuan yang analisis dan logis. Dengan demikian, Aksiologi mempertanyakan, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?.[24]

Jika kita merunut latar belakang terbentuknya: mengapa an untuk apa ilmu pengetahuan itu ada, maka jawabanya akan dikembalikan kepad manusia itu sendiri. Karena manusialah subjek dari ilmu pengetahuan, terlebih jika tidak ada manusia maka ilmu pengetahuan juga mustahil ada dan berkembang. Dengan potensi kejiwaan berupa daya cipta, rasa, dan karya, manusia terdorong untuk mengetahui segala sesuatu dan kebenaran yang ada. Kemudian, setelah kebenaran tersebut mereka dapatkan, seharusnya dapat secara kreatifg dipergunakan sesuai dengan aksiologinya.

III. KESIMPULAN

Filsafat ilmu sebagai sebuah metodologi tentunya mempunyai dasar-dasar terbangunnya sebuah produk ilmu pengetahuan, dari pemaparan diatas kita tentunya mampu mengambil garis besar, bahwa ada tiga sumber ilmu pengetahuan, yaitu: ontologi, epistemologi, dan akseologi. Ketiganya tidak terpisahkan, karena ketiganya saling berkaitan dalam konteks estafet perkembangan ilmu pengetahuan.

Pertama, Ontologi membahas hal-hal paling abstrak dalam pengetahuan, dia lebih banyak mempertanyakan kebenaran akan sesuatu itu ’ada’. Sehingga pembahasannya hanya berkisar pada hal-hal yang metafisik dan absolut, dalam beberapa hal ontologi disebut sebagai ’pohon’ ilmu.

Kedua, Epistemologi melanjutkan hasil kebenaran yang didapatkan pada ranah ontologi, yaitu dengan melakukan uji kebenaran, baik dengan metode; konheren, yaitu dengan menggunakan indra sebagai instrumen sehingga dapat memberikan hasil berupa kebenaran yang empirik; dengan metode koresponden, yaitu dengan menggunakan akal pikiran sebagai instrumen sehingga dapat memberikan hasil berupa kebenaran yang rasional; yang terakhir adalah dengan metode pragmatik, yaitu dengan menggabungkan kedua metode di atas. Kedua metode tersebut bisa saling menguji, akal dan indra berjalan sebagai instrumen sehingga kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran yang empirik-rasional.

Ketiga, aksiologi yaitu ilmu tentang nilai dan etika bagi manusia yang menjadi subjek dari ilmu pengetahuan tersebut, ilmu ini berada di wilayah benar-salah, baik-buruk, menyenangkan-tidak menyenangkan dan lain sebagainya. Pada dasarnya ilmu ini bertugas untuk menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? ini adalah nilai-nilai (value) sebagai tolak ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu.


[1] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2008), 27.

[2] Cacing Cau, “Dunia Baru”, dalam http://cacau.blogsome.com/2008/01/08/filsafat-ilmu/ (08 Januari 2008)

[3] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 127.

[4] Anton Sujarwo, “Aksiologi” dalam http://antonmath.wordpress.com/7/ (13 september 2008)

[5] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 128.

[6] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), 68.

[7] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), 57.

[8] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 129.

[9] Masduqi Affandi, Ontologi Dasar-dasar Filosofi Dakwah (Surabaya: Diantama, 2007), 1.

[10] Suparlan Suhartono, Dasar-dasar Filsafat (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 117.

[11] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 129.

[12] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, 22.

[13] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pen

getahuan, 136.

[14] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 60.

[15] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 136.

[16] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 60.

[17] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 141.

[18] Suparlan Suhartono, Dasar-dasar Filsafat, 120.

[19] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 64.

[20] Anton Sujarwo, “Aksiologi” dalam http://antonmath.wordpress.com/7/ (13 september 2008)

[21] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, 64.

[22] Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, 23.

[23] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 141.

[24] Cacing Cau, “Dunia Baru”, dalam http://cacau.blogsome.com/2008/01/08/filsafat-ilmu/ (08 Januari 2008)

* Makalah ini telah ditulis dan dipresentasikan oleh Khaerul Azmi di kelas pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hello world!

Desember 11, 2008 at 11:19 am (Uncategorized)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar